Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
Tiap pagi gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.
Doi orangnya nggak cakep-cakep banget. Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.
Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.
Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.
Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
“Choirun ada?”
“Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?”
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante yang gatal !
“Mbak Yani sendiri ya?”
“Nggak, sama Poppy dan Umi,”
“Ya sudah, besok saja,”
Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan ‘peralatan’nya, lalu mengetuk pintu.
Seorang perempuan mengintip dari balik korden.
“Siapa ya?”
“Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,” sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.
“Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,”
“Lho, kenapa?” Yani terlonjak.
“Ia kedapatan menghisap ganja…”
“Nggak mungkin!” perempuan itu memekik.
“Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,”
Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga ‘polisi’ itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, “Ada di bawah kasur sini, komandan!”
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. “Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!” tegasnya.
“Tapi…tapi…saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ…” kata Yani terbata-bata.
“Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,”
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
“Beres Dan, siap cabut,” katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.
Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. “Kami nggak ingin repot nantinya,” alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.
Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. “Gampang banget…” kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
“Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,” desisnya.
“Eh…eh…apa-apaan ini?” Yani ketakutan. “Eiiiiii….awwwhhhh…kurangajj…awwwhhhh… ” Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.
Lelaki itu lalu menyingkapkan j****b Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba…breetttt….bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.
“Wah, susu yang segar,” kata temen gue.
“Jangannn…tolong…jangaann…” Yani menangis.
“Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!” kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.
Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
“Wah…wah…ini susu yang indah…” kata kedua temen gue di belakang. “Coba lihat punya Nyonya ini…” lanjut mereka.
Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan…..”Awwwwww….” ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.
Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memeknya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memek Yani.
“Aaaaakhhhh….” Yani menjerit kesakitan. Memeknya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memek yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memek perempuan manja itu.
Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memekik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memeknya sambil sesekali mencabuti jembutnya. Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.
***
Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memek Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata ****** dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu. Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.
“Nggghhhhh….” dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua ****** ada di mulut mereka.
Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memek Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.
Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan ber****** itu.
“Emut ****** gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!” kata gue sambil nyodorin ****** yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap ******.
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin ****** gue sampe ke pangkalnya.
“Diemut!” bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu ****** gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memeknya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memeknya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.
Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ******* cewek itu.
“Aunghhhhhh…” Yani mengerang panjang waktu ****** gue nyodok memeknya sampai mentok. Memeknya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.
Ada seperempat jam gue kocok memeknya pake ******, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ******* mulutnya sambil memegangi kepala cewek berj****b itu.
Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memeknya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin ****** ke dalamnya.
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa ****** gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya ****** gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.
“Aaaaaakhhhhh…..” Yani melepas ****** temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memek Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.
Gue ngerasa ****** gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu ****** gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
“Crooottt…crottt…crottt…” air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
“Telen!” bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung j****bnya gue dan temen gue mengelap ****** yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. J****b mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.
Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memeknya. Akibatnya, bibir memeknya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
“Jangaann…ampun oommm…” rintihnya. “Adduhhhh…” pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memekik waktu celdamnya akhirnya putus.
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memeknya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah. Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong ****** temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan ****** menusuk pantatnya, lalu memeknya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.
“Aihhh…” Poppy memekik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memeknya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.
“Aduhh…jangaann…” Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, ****** gue pas banget nunjuk memeknya. Terus gue kucek-kucek memek anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang ****** gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memeknya. Kepala ****** gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.
“Aaaakkhh….auhhhhh….ouchhh…aiiiii….sakkkii ittt….adduhhhhh….” Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga. ****** gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memeknya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa ****** gue di dalam memeknya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok ****** gue di dalam memek Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu ****** gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memeknya yang masih menganga.
“Aucchhhhh…sakkkiiittt…aaahhhh…” Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memeknya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
“Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memek yang ini. Pantatnya buat gue ya!” teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memek Umi.
Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.
“Kamu paling muda, jadi memekmu pasti paling enak. Kamu mau kontolku masuk memekmu?” kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
“Huuu…jangaaannn…huuu…” ABG itu menangis lagi.
“Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu…memeknya sudah jebol…kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,”
Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dientot dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum ****** gue lagi sampai ****** gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memek Yani bangun, gantian dia memasukkan kontolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah ****** temen gue satunya dari pantat ke memek.
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa ****** gue ikut masuk memeknya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan kontolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua ****** di dalam memeknya bikin memeknya seperti mau sobek.
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memek Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.
Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas ****** temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.
“Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,” kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala ******, gue sodok aja.
Kepala ****** gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh….
“Aaaaaachhhhh…aauuhhhhh….saakkkiiitt….nggghh hhh….” Poppy menjerit histeris. ****** gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa ****** gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
“Gimana? Kamu mau nurut?” kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memeknya yang berjembut tipis.
“I…iya…iya…” katanya terbata-bata.
“Bagus, sekarang bersihin kontolku,” kata gue sambil berdiri, menyodorkan ****** gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga ****** gue.
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot ****** gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. Memek, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
“Gue juga bersihin dong,” kata temen-temen gue berbarengan.
Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong ******-****** berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memek Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.
“Huuu…huuu…sudahh…saya mau pulang…” Umi terisak sambil duduk bersimpuh.
“Boleh, tapi kamu harus joget dulu,” kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. “Ayo cepet joget!” bentaknya.
Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. “Joget yang hot!” bentaknya.
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berj****b tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. “Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memekmu kena telunjukku ini,” kata gue.
Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memeknya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memeknya.
“Jogetmu bikin aku ngaceng nih!” kata gue sambil mengacungkan ****** gue yang emang udah tegang banget.
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.
“Aaahhh….janngaaaannnn….kalian jahaaaattt…aaahhhh…” Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.
Umi nangis lagi, waktu ngerasa memeknya mulai kesenggol kepala ****** gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memeknya ke kanan dan kiri. Terus, ****** gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang ****** gue kejepit memek perawan yang sempit.
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.
“Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat ******, kamu nggak?” kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong ****** gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa ****** gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu ****** gue mentok ke dasar memeknya, gue berhenti sebentar. Kerasa memeknya berdenyut-denyut meremas-remas ****** gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi ****** gue. Itu pasti darah perawannya.
Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu ****** gue kocok dengan gerak cepat di dalam memeknya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut kontolnya.
Nggak lama, gue pindah ****** ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memeknya itu tetap bisa gue jebol pakai ****** gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memeknya yang berdarah disodok ****** temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua ****** sekaligus.
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil kontolnya tetap di dalam memek cewek yang baru lulus SMU itu. Dua ****** masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin ****** gue, bareng ****** temen gue yang sudah masuk duluan.
Umi merintih kesakitan, waktu ****** gue bisa masuk. Pas ****** temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai ****** gue juga masuk sampai pangkal. Umi memekik keras, sebab terasa ada yang ‘krekk’ di dalam memeknya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.
Gue ambil ****** karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. Memeknya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan ****** beneran dan ****** karet makin cepat.
“Minggir…minggir…” kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin ****** gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.
***
Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.
Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.
“Ini bagus dan menarik,” kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.
Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.
Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita ‘pigura’ dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
“Ini pasti lucu,” kata temen gue.
***
Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu…
***
Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berj****b putih panjang dan jubah ungu.
“Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,” kata gadis berwajah khas Jawa itu.
“Bu Yani kemana?”
“Bu Yani sekarang tinggal di Klaten…” sahutnya.
Ow… ow… gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memeknya. Temen-temen gue harus dikasih tau !
Default Yang Seru 4 some…Laki-laki Panggilan
Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.
“Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?” katanya.
“Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?” kataku.
“Kamu nanti sore ada acara nggak?” katanya.
“Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?” tanyaku.
“Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?” katanya.
“Bisa tante.. aku siap kok?” jawabku.
“Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu”, katanya.
“Oke.. Tante”, balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.
Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.
Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.
Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.
Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, “Wow.. Ded, ****** kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu..” katanya.
“Masa sich Tante”, kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
“Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain ****** kamu ini sambil ******ku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?” katanya.
“Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Dedi kasih”, kataku yang langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil disedot-sedot dan dikocok-kocok.
Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.
“Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?” tanyaku.
Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan, “Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang..”
Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.
“Tante… Dedi mau keluar nich..” kataku.
“Keluarain di mulut Tante aja”, katanya.
Selang beberapa menit, “Crooot.. crooot.. crottt..” air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.
Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan.
Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, “Blesss.. belssss.” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di liang kewanitaannya.
Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan akhirnya, “Crooot.. crott.. croottt..” air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas. Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.
sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.
kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa.
Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Meri sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. bleeesss..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Meri, lalu Tante Meri menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Meri.
Beberapa jam kemudian, Tante Meri sudah orgasme dan Tante Meri terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku. Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang senggamanya, “Bleesss.. bleesss..” batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Meri, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.
Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, “Blesss.. .bleeess..” batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa. Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar desahan hebat, “Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak..” Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. “Akhhh.. akhhh..” terdengar lagi desahan Tante Lisa. Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.
Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, “Blesss.. blessss.. blessss..” batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante Lisa, “Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?” tanyaku.
“Di dalam aja Sayang..” pintanya.
Kemudian, “Crottt.. crooottt.. croottt..” air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.
Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.
War on bed, Peace in life
Bermula kenalan yang tidak sengaja diatas bus patas ac, setiap pagi saya naik bus dari terminal dikawasan Jakarta timur, sampai suatu hari ada seorang wanita yang naik bersamaan dengan saya, kalau diperhatikan wanita ini tampak biasa saja usianya saya perkirakan sekitar 35an , tetapi dengan setelan blazer dan rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, hari itu dia naik bersama saya dan diluar dugaan saya dia duduk disamping saya, padahal ada bangku lain yang kosong, tapi okelah saya anggap itu adalah wajar…..tapi sungguh saya tidak berani menegur, kadang kala saya melirik ke arah pahanya yang putih dan sedikit di tumbuhi bulu bulu halus dipermukaannya hal ini membuat saya betah duduk bersama dia selain juga wanginya membuat saya sangat bangga bisa duduk berdampingan dengan beliau, begitulah hingga hari ketiga hal yang sama terjadi lagi dan kali ini saya coba mau iseng iseng berhadiah, maka saya tegur ; selamat pagi mbak…!, ” pagi juga…” si mbak menjawab dengan senyum yang cantik dimata saya, lalu saya buka omongan ” kayaknya udah 3 hari berturut turut kita sama sama terus…ya?, mbak mau turun dimana sih..?, dia jawab “di Sarinah mas….” dan saya tanya apa mbak kerja disana..?, lalu dijawab “oh tidak, saya kerjanya dekat Sarinah…” lalu terjadilah percakapan biasa meliputi kemacetan lalin sampai dia tanya balik saya kerja dimana, lalu saya bilang dikomputer, dan dia bilang bahwa kantornya banyak pakai komputer, boleh dong minta kartu nama, maka saya berikan sebuah kartu nama, tapi waktu saya minta kartu namanya, dia tidak kasih dengan alasan tidak punya, rupanya hari ini hari baik saya dan segera saya tau namanya “YULI” (bukan sebenarnya), selanjutnya kami selalu bersama sama tiap pagi dan telepon pun mulai berdering dengan segala basa basi……
Suatu ketika saya tidak melihat dia selama 5 hari berturut turut, saya sempat menunggu sampai telat tiba dikantor, saya hubungi telepon dikantornya juga tidak masuk, akhirnya dia telepon juga katanya sakit. Tepatnya hari Senin saya kembali ketemu, kali ini tanpa mengenakan seragam hanya memakai celana jean’s dan kaos t-shirt sehingga dadanya yang montok itu tampak jelas membuat perhatian orang orang disekitar kami, kali ini dia ajak saya untuk bolos…, Mas saya butuh bantuan nih…katanya, lalu saya tanya apa yang bisa saya bantu…?, “mas, kalau bisa hari ini nggak usah ke kantor temenin saya ke Bogor yuk…kalau mas nggak keberatan lho..?, saya berpikir sejenak, lalu saya tanya lagi lagi….emang kamu mau nggak kerja hari ini….?, “saya sedang ada masalah nih….ya… agak pribadi sih.., kira kira bisa nggak mas. Saya nggak pikir lagi saya jawab ” ya…dech saya temenin deh…” dalam hati sih, wah kasian ini customer saya yang udah pada di janjiin.
Dengan alasan keperluan keluarga saya ijin tidak masuk, saya jalan jalan sama Yuli kerumah temannya di kota Bogor ,Setiba disana saya dikenalin sama temannya namanya Nia, mereka bicara berdua dibelakang, sementara saya diruang depan seorang diri, setelah itu mereka kembali lagi dan kita ngobral bersama sama , rupanya si Nia punya janji dengan temannya kalau mau pergi jadi kita tinggal berdua saja dirumah itu, sambil ngobrol di karpet dan nonton Tv, dengan manja Yuli tiduran di pahaku, sambil bercerita macem macem dan aku menjadi pendengar yang baik, sampai dia bertanya “capek nggak mas ditidurin pahanya gini..?”, lalu saya jawab: “ah nggak apa apa kok mbak….!, dalam hati sih pegel juga nih udah itu batang kemaluan saya agak sedikit bangun gara gara saya ngintipin dadanya yang montok dan putih, dia pakai BH yang cuma separo (atas lebih terbuka) jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol, diluar dugaan dia tanya lagi , tapi kali ini nanyanya nggak tahu lagi iseng kali, “burungnya nggak keganggu kan ditidurin sama saya..?, lalu saya jawab sekenanya saja, “keganggu sih nggak, cuman agak bangun ….”, eh dia tersenyum, sambil megang batang kemaluan saya,”biarin deh bangunin aja…pengen tahu, kayak apa sih….!, “ya sudah bangunin saja…”jawab saya pasrah sambil berharap hal itu beneran , “Ah yang bener mas..?,kalau gitu buka dong biar aku bangunin..”, jangan disini mbak, nanti kalau mbak Nia datang gimana kita….,” Oh tenang aja si Nia pulangnya baru ntar sore, dia temen baik saya, saya sering nginap disini, dia juga suka nginap dirumah saya…” terus saya diam saja. “Ayo dong dibuka, katanya burungnya pengen dibangunin.. !, dalam keadaan duduk dan menyandar didinding ditambah lagi Yuli yang tiduran tengkurap dikaki saya, jadi aga repot juga saya buka jeans saya, cuma saya plorotin sampai batas paha saja, begitu dia liat batang kemaluan saya langsung di genggam sambil berkata ” ini sih masih tidur..ya?,. biar saya bangunin…. !, lalu mulai di kocok dan tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala, membuat saya merasa geli tapi enak, lalu ketika batang kemaluan saya mulai mengeras, dia makin mendekatkan wajahnya dan mulai mejilat dengan ujung lidahnya disekitar bagian bawah kepala kemaluan saya, sekali kali dia gigit gigit kecil, hal ini membuat saya merem melek, akhirnya saya katakan “Mbak buka T-shirnya dong…!, lho kenapa mas…?, aku menjawab: “pengen lihat saja..!, lalu sambil tersenyum dia bangun dan mulai membuka ikat pinggang, kancing celana dan retsleting celana jeansnya, sehingga perut bagian bawahnya tampak putih dan sedikit tampak batas celana dalamnya, lalu dia tarik T-shirt keatas dan dilepaskan, sehingga dengan jelas saya lihat pemandangan indah dari dadanya yang montok (BH no 36), dan selanjutnya dia mulai menurunkan celana jeansnya, sekarang tinggal pakai BH dan celana dalam saja, Oh….Cd nya yang mini sekali, betapa indah tubuh wanita ini montok dan sekel setelah itu kembali dia tiduran keposisi semula , tapi kali ini dia tidak hanya memainkan batang kemaluan saya tetapi sudah mulai dimasukkan kedalam mulutnya , terasa lidahnya bermain diatas kepala kemaluan saya dan Oh …nikmatnya, sambil membuka baju saya mencoba mengangkat pantat saya agar lebih masuk, rupanya dia tahu maksud saya , dia masukin full sampai ke tenggorokannya , saya tidak pernah mengukur batang kemaluan saya sendiri tapi didalam mulutnya dia batang pelir saya terasa sudah mentok dan masih tersisa diluar kira kira 2 ruas jari orang dewasa, sampai Yuli sempat tersendak sesa’at , aku pun segera berputar lalu merebahkan badan sehingga posisi sekarang seperti 69, saya biarkan dia mempermainkan kemaluan saya , sementara saya ciumin paha bagian dalam yuli yang mulus dan putih, sambil meremas bagian pantatnya yang masih tertutup celana dalam, pelan pelan saya tarik celana dalamnya, sampai terlihat dengan jelas bulu lebat disekitar kemaluannya sehingga kontras dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya sampai ada bulu yang tumbuh disekitar lubang duburnya, Oh indah sekali panorama yang ada didepan saya, dan saya pun mulai menjilat vaginanya yang wangi sebab keliatannya dia rajin pakai shampo khusus untuk vagina, pada sa’at itu terdengar suara merintih yang lirih…oh mas aku nggak tahan nih……ah, dan dia tampak bersemangat, lubang kemaluannya mulai berlendir, buah dadanya mengeras, akhirnya saya bangun saya balikkan tubuhnya saya lepas Bhnya, sehingga tampak tubuhnya yang montok dalam keadaan bugil, saya perhatikan dari atas sampai bawah tampak sempurna sekali, putih, mulus, bulu kemaluannya tampak lebat, waktu saya perhatikan itu, tangannya terus memegang batang kemaluan saya, akhirnya saya renggangkan kedua pahanya dan saya angkat sehingga tampak jelas lubang vagina dan anusnya, lalu saya tarik pelan pelan batang kemaluan saya dari mulutnya dan merubah posisi, saya peluk dia sambil menciumi bibir, leher, serta telinganya hal ini membuat dia terangsang sambil berkata lirih “mas masukin saja mas…!” lalu saya bangun dan saya pandang dia , dan saya atur posisi kedua kakinya dilipat sehingga pahanya menempel di dadanya lalu saya jongkok dan saya pegang batang saya dan saya arahkan ke vaginanya lalu saya tempelkan kepala kemaluan saya, saya tekan sedikit demi sedikit, dan dia mulai merintih, tangannya mencekram tanganku dengan kuat, matanya memejam, kepalanya bergoyang kiri dan kanan dan vaginanya basah hebat, ini membuat kepala pelirku basah, dan aku mulai berirama keluar masuk, tetapi hanya sebatas kepalanya saja, kini ia mulai mencoba menggoyangkan pinggangnya dan mencoba menekan agar batang pelirku masuk total tapi aku bertahankan posisi semula dan mempermainkan terus . Akhirnya karena tidak tahan dia pun memohon “Mas ….oh …..masukin aja ….mas nggak kuat nih….ohhh. …mas” pintanya akhirnya mulai aku mendorong batang kemaluanku perlahan tapi pasti, dengan posisi jongkok dan kedua kakinya berada diatas pundakku, aku mulai menciumi dengkulnya yang halus itu, mbak yuli pun mulai menggoyangkan pinggangnya keatas dan kebawah, kira kira 10 menit kemudian dia mulai merenggang dan gerakannya tidak stabil sambil merintih “Mas….oooh. ..ssstttt” dadanya dibusungkan, tampak putingnya menonojol , “Ayo mas …akhhh…. terus…. mas….” aku pun mulai memompa dengan irama lebih cepat sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku mengenai bagian klitorisnya, hal ini yang menyebakan mbak Yuli “Orgasme” atau klimax , dan terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, tubuhnya merenggang hebat “Mas Ohhhhh…..pssttt. ….Akh ……” nafasnya memburu, ……sesa’at kemudian dia terdiam….. akupun menghentikan goyanganku.. ….aku tarik pelan pelan batang kemaluanku dan setelah dicabut tampak ada bekas cairan yang meleleh membasahi permukaan vaginanya, dan nafasnya mbak Yuli tampak ngos ngosan seperti orang habis lari, akupun duduk terdiam dengan kemaluanku masih tegang berdiri, mbak yuli pun tersenyum, sambil tiduran kembali diatas kedua pahaku dan rambutnya terurai sambil dia pandangi batang kemaluanku yang masih berdiri, tangannya memegang sambil berkata….. “Mas ini enak sekali…., diapaiin sih kok bisa segede begini….”, aku jawab “Ah ini sih ukuran normal orang asia…..” dan dia bilang “tapi ini termasuk besar juga lho mas…..”, aku hanya terdiam sambil aku mengambil sebatang rokok, dan aku menyulutnya, dan kulihat mbak Yuli tetap mempermainkan batang kemaluanku dan berkata “kasih kesempatan 5 sampai 10 menit lagi ya mas, biar saya bisa nafsu lagi…”, aku terdiam hanya menganggukan kepala. Ronde kedua dimulai di rebahkan badanku lalu dia ambil posisi diatas badanku dia kangkangin kedua paha di pegangnya batang kemaluanku yang masih keras dan tegang lalu dimasukan kedalam lubang vaginanya, dan dia pun mulai melakukan gerakan naik dan turun, seperti penunggang kuda, kedua buah dadanya berayun ayun lalu secara reflek aku pegang kedua putingnya dan aku pilin pilin, membuat mbak yuli terangsang hebat, kira hampir ? jam kemudian aku merasakan spermaku akan segera keluar, segera aku balikkan tubuhnya dan aku pompa kembali vaginanya dengan nafsu, mbak Yuli merasakan aku akan melepaskan spermaku, dia segera berkata mas keluarin diluar aja,
aku ingin liat, aku diam saja sesa’at kemudian mbak Yuli mulai merintih:” Aduh mas ohhh….enak …mas …akhhh…. masss”, akhirnya mbak Yuli kembali orgasme, membuat vaginanya basah , hal ini membuat aku makin enak …..akhirnya aku tak mau menahan lebih lama spermaku terasa sudah di ujung tak dapat kutahan lagi, segera aku tarik batang kemaluanku , tangan kananku mengocok batang kemaluanku sendiri dan tangan kiri menekan pangkal batang kemaluanku sendiri, pada sa’at itu mbak Yuli memasukan salah satu jarinya kelubang anusku membuat sperma muncrat banyak sekali berhamburan diatas dada, perut, dan diatas rambut kemaluannya. …akupun segera berbaring disampingnya, istirahat sebentar, lalu kekamar mandi, untuk mandi bersama.
Dikamar mandi kami saling menyabuni, sambil aku meremas remas kedua buah dadanya yang basah oleh sabun, mbak Yulipun memainkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur tapi masih aja mengeras, lama lama aku tegang lagi karena permainan tangan mbak Yuli dengan sabunnya, waktu aku tanya: “Mbak tadi kok minta dikeluarin di luar kenapa..?, dia hanya bilang senang melihat kemaluan laki laki lagi “keluar ” spermanya… !, mas ini bangun lagi ya..?, aku hanya mengangguk sambil tanya boleh masukin lagi nggak…?”, dia mengangguk sambil berkata:”dari belakang ya mas…!, sambil membalikan badan yang masih penuh sabun dan posisi setengah membungkuk, kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar mandi dan kedua kakinya direnggangkan sehingga tampak jelas sekali lubang vaginanya, juga lubang anusnya, aku jongkok dibelakangnya sambil mempermainkan lidahku di sekitar vagina dan kedua pantatnya, lamat lamat kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak mandi, segera kuambil sabun sebanyak mungkin aku gosok di batang kemaluanku, lalu aku genggam batang kemaluanku dan kepala kemaluanku kutempel di permukaan lubang vaginanya, terdengar desahan dan mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur, nikmat sekali dan mbak Yulipun tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya kekanan dan kekiri, kurang lebih 10menit mbak Yuli kembali kepuncak kenikmatan, lendir hangat kembali membasahi batang kemaluanku, aku bertanya:”Keluar lagi..mbak.. ?”, ia hanya menganggukan kepalanya, lalu pelan pelan kembali kugerakan batang kemaluanku maju mundur sambil menunggu mbak Yuli terangsang lagi, kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, lalu kucoba kumasukan jari telunjukku kedalam duburnya setelah aku beri sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan “ssstt…ah mas pelan pelan” rintihan yang membuat aku semakin nafsu…..tiba tiba aku ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang keliatannya masih “Perawan” itu, kutarik pelan batang kemaluanku yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan mbak Yuli, kutempelkan kepala kemaluanku yang mengeras dipermukaan duburnya, kupegang batang kemaluaku sehingga kepalanya mengeras, aku mencoba menekan batang kemaluanku, karena licin oleh sabun maka kepala kemaluanku segera melesak kedalam, dia pun mengeluh “akhhh aduh masss ..sssttt ohh.!” aku berhenti sea’at, dan dia bertanya;”kok dimasukin disitu mas…?’, lalu kujawab dengan pertanyaan “sakit nggak mbak….?, mbak Yuli diam saja, dan aku melanjutkan sambil berdiri agak membungkukkan badan tangan kiriku melingkar diperutnya menahan badannya yang mau maju, dan tangan kananku berusaha memegang vaginanya mencari klitorisnya , hal ini membuat dia terangsang hebat, dan kutekan terus sampai masuk penuh, terasa olehku otot anusnya menjepit batang kemaluanku , permainan ini berlangsung ? jam lamanya, dan kembali aku tak mampu menahan spermaku didalam duburnya sambil kupeluk tubuhnya dari belakang aku tekan batang kemaluanku sedalam mungkin, tubuhku bergetar dan mengeluarkan cairan sperma dalam duburnya, kubiarkan sesaat batang kemaluanku didalam anusnya sambil tetap memeluk tubuhnya dari belakang, dan tubuh kami masih berlumuran dengan sabun, kami melepaskan nafas kecapaian lalu kami selesaikan dengan saling menyirami tubuh kami, lalu berpakaian dan duduk kembali menunggu mbak Nia pulang, mbak Yulipun tertidur di sofa karena kecapaian .
Ketika mulai senja ku lihat mbak Nia pulang dan aku membukakan pintu, beliau bertanya :”mana si Yuli…?”, aku tunjuk dan dia berkata :”oh lagi tidur…, capek kali ya….?, aku hanya diam saja dan mbak Nia masuk kamarnya, tiba tiba aku ingin kencing dan aku kekamar mandi melewati kamarnya mbak Nia , secara nggak sengaja aku melihat dari antara daun pintu yang tidak rapat, mbak Nia sedang ganti baju, aku lihat dia hanya mengenakan celana dalam saja, tubuhnya bagus , putih bersih dan sangat berbentuk, aku sesa’at terpana dan ketika ia mengenakan baju aku buru buru kekamar kecil untuk buang air kecil, dan waktu keluar dari kamar mandi, mbak Nia tengah menunggu depan pintu, sambil tersenyum dia bilang:”tadi ngintip ya….” aku hanya tersenyum dan berkata “boleh liat semuanya nggak…”, dia jawab :”boleh aja tapi nggak sekarang, nggak enak sama….” sambil menunjukkan tangannya kearah ruang tamu, aku paham maksudnya lalu dia masuk kamar mandi sambil tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, aku segera kembali keruang tamu dan membangunkan mbak Yuli.
Akhirnya aku dan mbak Yuli sering melakukan hubungan sex dengan berbagai style di motel, villa kadang kadang dirumaku sendiri, dan ketika aku ingin kerumahnya beliau selalu melarang dengan berbagai alasan, ternyata mbak Yuli ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak, ini membuat aku sangat kecewa. Disa’at aku mulai benar benar mencintainya, dan mbak Yulipun sebenarnya menginginkan hal yang sama, tapi beliau sudah terikat oleh tali perkawinan ,hanya saja dia tidak pernah merasakan nikmatnya hubungan sex dengan sang suami, dan sa’at jumpa dengan diriku dia cukup lama mengambil keputusan untuk menjadikan diriku sebagai kekasihnya (PIL) ,katanya bersama saya dia menemukan apa yang dia inginkan (kata dia lho), hubungan kami berlangsung setahun lebih sampai beliau pindah bersama suami, ke Surabaya…. tapi aku yakin suatu hari aku pasti ketemu lagi…..Oh mbak Yuli sayangku, ternyata kamu milik orang lain….hingga sa’at ini aku masih berharap ketemu lagi, setiap pagi aku masih setia menunggu kamu…..walau tidak ketemu tapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku……
“Selamat pagi mbak ini saya mau ngecek saldo rekening PT SAE ” begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh nasabahku ini, sebut saja namanya yudhi. Karena sering bertemu baik di telepon maupun saat dia ke bank aku menjadi akrab juga dengannya. Dengan penampilannya yang kalem sebagai seorang wiraswastawan muda cukup menggetarkan hati juga bila melihat senyumnya, namun sering timbul keraguan untuk menyapanya lebih jauh melihat wajahnya yang kelihatan kurang suka bercanda dan lebih banyak berbicara serius setiap bertemu.
Sampai suatu hari ketika pulang kerja menunggu taxi sebuah mobil cherokee mendekatiku ternyata isinya adalah pak yudhi, menawarkan apakah aku mau kalau dia antar pulang. Benar-benar kesempatan untuk mendekatinya karena kutahu dia belum ada yang memiliki. Singkat kata dalam perjalanan ternyata pak yudhi ini memiliki selera humor yang tinggi aku sampai terpingkal-pingkal mendengarnya. Di perjalanan yudhi (demikian ia ingin dipanggil) mengajak untuk makan malam dahulu aku iyakan saja tapi karena capai aku mohon diantar pulang dulu untuk mandi.
Sampai dirumah kos kupersilahkan yudhi untuk duduk di ruang depan (rumah kosku mirip apartemen) selagi aku mandi alangkah kagetnya ternyata aku lupa membawa handuk yang ku jemur diteras depan, sedangkan pakaianku sudah kurendam di ember. Dengan terpaksa aku memanggil yudhi untuk minta tolong mengambilkan handuk didepan. Dengan tangan gemetar kusambut handuk yang diberikannya, namun aku tak sanggup untuk menutup pintu kamar mandi demi melihat pandangan matanya yang begitu mempesona, tanpa sadar aku telah berdiri telanjang didepannya. Agaknya yudhi ini tipe lelaki berpengalaman yang tahu cara memanfaatkan situasi, ditariknya tanganku dan dipeluknya tubuh telanjangku yang masih basah, diciumnya bibirku hingga lumat.
“Akkhh…”aku mengelinjang kegelian, karena nikmatnya aku sudah tidak sadar dalam keadaan telanjang. Diremas-remasnya payudaraku walaupun tidak terlalu besar namun menimbulkan kegelian dan kenikmatan tersendiri bagiku. Dengan cepat yudhi membuka pakaiannya dan dengan wajah memerah aku pandang ******nya yang besar dan panjang itu. terus terang aku bukan pertama ini melihat punyanya lelaki, tapi milik yudhi beda benar dengan milik yayak pacarku di kota lain. Tidak tahan aku remas-remas batang ****** dan bijinya, kulihat yudhi memejamkan mata sambil berdesis “aahhh…teruskan nissa.. terus”, desah yudhi sambil tangannya turun mempermainkan memekku yang sudah mulai terasa basah. ”
Kita dikamar saja yu biar lebih enak” ajakku. Aku diangkat kedalam kamar tidurku dan dibaringkannya aku di dipan. yudhi mulai menjilati seluruh tubuhku sambil memuji tubuhku yang putih bersih. Betapa menyenangkan dan nikmatnya. Yudhi nasabah idolaku kini sedang sibuk menjilati seluruh tubuh telanjangku “….ohh teruskan yud..teruskan”.
Tiba-tiba dia menghentikan jilatannya dan berdiri menyodorkan ******nya, “ayo nissa kamu isap dong kita 69 sekarang”. Mulanya agak kagok juga aku isap ****** yang besar itu, tapi lama-lama enak juga,sementara aku merasakan kegelian yang amat sangat dari bagian memekku yang sibuk dijilati oleh yudhi. Setelah sekian lama yudhi membalikkan tubuhku, dia mulai mengarakan ******nya ke memekku, sambil berbisik dia meminta ijinku “nis aku masukkan yach”, aku yang sudah tak tahan lagi dengan jilatannya hanya bisa menggangguk, bless ****** yang besar itu masuk ke memekku, “akhhh yud pelan.. sakit”, karena lama sekali aku tidak pernah berhubungan dengan pacarku rasanya sakit sekali. Namun dengan tanpa belas kasihan si yudhi malah memasukkan seluruh ******nya hingga amblas, “akhhh….” aku merasakan sakit yang luar biasa namun kenikmatan yang ada mengalahkan rasa sakitku, apalagi aku mulai merasa memekku terasa basah sehingga melicinkan jalan ******nya yudhi.
“Terusin yud..akhhh..uuhhhhh..” desisku berulang ulang. Dengan bengis si wajah dingin ini me******* memekku..Tiba-tiba aku merasa ingin kencing rupanya aku sudah hampir mencapai puncak aku cakar punggung si yudhi sambil melenguh keras “yuuuuuudddddddd…akhhhhhh” banjir terasa di memekku… Si yudhi meminta aku menungging dengan gaya doggy style aku dientotnya lagi dari belakang sampai aku mengalami orgasme yang kedua kalinya ternyata si yudhi masih kuat dan belum menampakkan akan berhenti, terus terang aku sudah capek namun karena kenikmatan yang aku rasakan si yudhi ini mencoba dengan berbagai cara, setelah hampir selama satu jam dia me******* memekku barulah dia berbisik ayo kita keluarkan bersama “akhh..uhhhh”, yudhi mulai mempercepat genjotannya akupun dengan tanpa sadar ikut bergoyang dengan cepat mengikuti iramanya..kulihat yudhi memelukku dengan erat dan menciumu lobang telingaku dan mempermainkan lidahnya ohhhh geli dan nikmat rasanya yudhi semakin mempererat pelukannya “ahhhh nissss….”
“yudddhh……” kurasakan di memekku mengalir cairan hangat ternyata yudhi sudah mencapai puncaknya dan saat bersamaan kurasakan sesuatu yang tidak dapat kutahan lagi dari memekku kucoba untuk kutahan namun tak bisa aku ikut muncrat dan mengeluarkan bunyi seperti orang kentut..ehhh si yudhi malah nambah terus goyangannya “akhhhhhhhh…” kami berpelukan dan rebah bersama.
Akhirnya kami sampai lupa makan malam itu sampai pagi kami melakukannya sampai lima kali dan aku mengalami orgasme berkali-kali. Esok paginya dengan wajah lesu aku pergi kekantor dan telepon berdering “hallo bisa tanya saldo rekening mbak ?”, “Rekening perusahaan apa ?” kutanyakan, dijawab “rekening saldo semalam” ternyata diseberang sana si yudhi menelepon. demikian akhirnya hampir setiap ada kesempatan pasti kami lalui dengan ngesek di kamar mandi kantor-ku bekerja, di mobil, di pantai, dll.
Suatu malam aku di telepon oleh saudara perempuanku yang bernama Yenny. Dia adalah anak dari adik perempuan ibuku. Umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Hubungan keluargaku dengan keluarga adik ibuku lumayan dekat dan akrab.
Malam itu adalah Jumat malam kira-kira pukul 23.00, aku diminta tolong untuk menjemputnya di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang 5. Salah satu temannya mengadakan acara pesta ulang tahun. Karena tidak ada yang bisa menjemput maka aku dimintai tolong. Orang tuanya sedang pulang kampung dan suaminya sedang dinas di luar negeri. Padahal aku sendiri juga ada janji kumpul bareng teman-teman dan menginap. Aku berpikiran, hanya menjemput dan mengantar pulang saja tidak akan makan waktu lama, apalagi sudah tengah malam, aku masih bisa menyusul teman-temanku yang sedang dugem. Setelah kuparkir mobilku di basement, aku langsung naik elevator dan menuju lantai 3 tempat cafe itu berada dari depan dapat kudengan dentuman suara musik dance yang cepat. Suasana di dalam gelap, hanya ada beberapa penerangan di sudut-sudut ruangan. Aku berkeliling mencari Yenny. Ternyata dia sedang di lantai bernari dengan sedikit liar bersama teman-teman wanitanya. Ada beberapa yang seksi dan menarik perhatian ku. Tapi tujuan utama ku adalah mengantar Yenny pulang dan bergabung kembali dengan teman-temanku.:cool:
“Yenny!” Seruku.
Ternyata dia tidak mendengar karena musik yang dimainkan sangat keras. Kupegang pundaknya, ia pun menoleh dan langsung mengenaliku.
“Indra…!” Sapanya.
Aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya, dan dia memang terlihat sangat mabuk.
“Kapan datangnya? Sudah lama?” tanyanya sambil bergoyang mengikuti alunan musik.
“Baru sampai, Sudah jam 11 lewat nanti Jimmy marah loh kalo pulangnya kemaleman.” Jawabku sambil sedikit berteriak.
“Iya aku tahu… Sebentar ya…” Yenny meninggalkanku dan berpamitan pada teman-temannya.
Tidak lama kemudian, Yenny menghampiriku dan kami pun meninggalkan tempat pesta itu. Setelah berjalan beberapa langkah, Yenny kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Secara reflek aku memegang lengan dan pinggangnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku.
“Iya… Tidak apa-apa koq..” jawabnya.
Karena takut dia jatuh, maka aku terus memegangi pinggang dan lengannya.
Setelah sampai di mobil, langsung kunyalakan mesin dan kuarahkan ke rumahnya. Tidak sampai lima menit, Yenny telah tertidur dengan pulas.
15 menit kemudian aku telah sampai di rumahnya. Aku coba untuk membangunkannya, tetapi tidak bisa. Yenny benar-benar tertidur lelap sekali. Ku buka tas tangannya dan kuambil kunci rumahnya. Terpaksa aku menggendongnya ke dalam rumah.
Kubaringkan dia di ranjangnya dan timbul sebuah ide di dalam kepalaku. Aku telah bersusah payah menggendongnya ke kamarnya yang terletak di lantai 2, seharusnya aku mendapatkan imbalan yang setimpal. Imbalan yang kuinginkan tidak lain adalah kepuasan duniawi untuk penisku.
Aku langsung membongkar lemari pakaiannya. Tanganku meraba-raba celana dalamnya yang semuanya berukuran mini dan halus dengan berbagai warna, seleranya memang bagus. Kuambil satu yang berwarna kulit dan kuhirup dalam-dalam. Tidak tercium aroma dari vaginanya, tapi cukup untuk membuatku bergairah. Aku berpaling ke arah Yenny, dia masih tertidur. Tiba-tiba saja aku tersentak dan langsung aku kembali membongkar-bongkar lemari bajunya. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, namun terdapat juga sedikit rasa kecewa. Dengan tangan yang sedikit bergetar kuangkat harta karun ku. Kubuka lipatannya dengan perlahan, terbentanglah sebuah stocking nylon berwarna kulit yang sheer toe dan lacy top ( transparan sampai ujung kaki dan pengikatnya berupa renda-renda yang seksi ). Penisku langsung berereksi dengan kuat. Langsung otaku memerintahkan seluruh tubuhku untuk masturbasi sambil mengenakan stocking dan celana dalam Yenny. Sekali lagi kuperhatikan Yenny yang sedang tidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku. Perlahan-lahan ku tarik stocking tersebut sampai ke tengah pahaku. Seluruh tubuhku diselimuti oleh getaran-getaran erotis ketika stockingnya bergesekan dengan kulitku. Demikian pula ketika celana dalamnya menyelimuti selangkanganku, pantatku dan buah zakar ku. Celananya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyelimuti penisku, tapi ini memudahkanku untuk bermasturbasi. Akan lebih nikmat lagi jika ada sebuah celana dalam lagi untuk membalut kejantananku, maka akupun keluar dari kamar mandi dan kuambil sebuah celana dalam lagi yang berwarna merah muda. Langsung kubalutkan pada penisku. Ku kocok penisku sambil membayangkan bercinta dengan saudaraku. Tanpa sadar aku menoleh ke arah Yenny dan timbul sebuah pemikiran untuk langsung bersetubuh dengannya. Namun ada pertentangan di dalam batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk bermasturbasi dengan melihat Yenny dari dekat dan mencoba untuk menyentuhnya bila memungkinkan.
Aku berutut di samping ranjang Yenny. Dia tidur dengan terlentang, kuamati dari ujung kaki sampai dengan ujung kaki. Wajahnya yang cantik dan manis, rambutnya yang sedikit dicat coklat selalu terbayang-bayang di dalam hatiku. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Gaun pestanya berwarna hitam terbuat dari sutra yang halus, hanya ada sebuah tali yang menyimpang dari pundaknya untuk menggantung gaun tersebut. Gaun sutra itu membungkus tubuhnya yang langsing dan padat dengan ketat, dan berakhir di atas lututnya. Ditambah lagi ada belahan di sebelah kanan sampai tengah pahanya menambah keseksian gaun tersebut dan tentu saja pemakainya. Kakinya padat dan proporsional di balut oleh stocking hitam yang sangat transparan dan kakinya memakai sepatu tali ( hanya ada 3 buah tali ) berwarna hitam yang menggiurkan. Kutelan ludahku, tidak dapat kupercaya saudara ku yang sering menjadi fantasi masturbasiku terbaring di hadapanku, seolah-olah mengundangku untuk menyetubuhinya. Dengan gugup jari tengah kananku menyentuh pergelangan kaki kanannya. Kuamati wajah Yenny, ternyata tidak ada reaksi. Kutelusuri tulang keringnya sampai tengah pahanya dengan jariku. Tidak ada reaksi darinya. Kugunakan telapak tanganku dan kutelusuri kembali sampai ke pergelangan kakinya. Kejantananku berdenyut-denyut dengan hebat, rasanya aku bisa orgasme dengan hanya mengelus-elus kakinya yang di lapisi oleh stocking yang halus. Berulang kali aku mengelus-elus kaki kanan dan kirinya dan sesekali memperhatikan wajah Yenny.
Kusentuh dengan ringan pipinya yang halus dan kencang, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, sampai aku dapat mendengar nafasnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, rasanya sungguh menghanyutkan. Kukulum dan kujilat bibirnya untuk beberapa saat, kemudian ku kecup dan kujilati dadanya. Payudaranya terasa lembut dan benar-benar pas dengan pijatan tanganku. Aku hendak mencicipinya namun gaun yang masih ia kenakan, terpaksa kukecup bersama gaunnya yang tipisdan halus. Aku tidak menyangka Yenny tertidur begitu lelap hingga tidak dapat merasakan payudaranya sedang kuremas-remas. Pertama-tama kuremas dengan pelan dan lembut, kemudian remasan ku bertambah kuat dan kuat tetapi tetap lembut, karena aku tidak ingin menyakitinya. Melihat reaksi Yenny yang tetap tidak terbangun dengan apa yang sedang kulakukan, memompa gairahku untuk bertindak lebih jauh, bahkan saat ini aku tidak perduli jika saudaraku yang cantik ini terbangun. Aku beralih ke jar-jari kakinya. Kutempelkan hidungku pada jari kakinya yang mungil yang masih terbungkus manis oleh stocking dan sepatu talinya. Kuhirup dalam-dalam, aromanya benar-benar membuat kepalaku melayang, tidak tercium bau kaki yang memuakan tetapi suatu wangi yang seksi dan menggetarkan. Ku kecup satu persatu semua jari kakinya kemudian kulahap ke dalam mulutku. Hasratku meledak saat itu juga, ku oral kakinya yang terbalut stocking hitam yang halus dan lembut. Baru kali ini aku begitu bernafsu french kiss dengan kaki perempuan. Aku tidak mau melakukannya jika pasangan seksku tidak memakai stocking tau pantyhose. Setelah puas melahap jar-jari kakinya, aku lanjutkan kecupan dan jilatanku ke pergelangan kakinya, pelan-pelan naik ke betis dan lututnya. Ku geser roknya sampai ke pertengahan pahanya. Yenny mengenakan stocking dengan bagian atas yang berenda ( lacy top ) dan benar-benar cocok di pahanya yang putih mulus. Tidak diragukan lagi, kujilati dan kukecup semua bagian pahanya.
Tiba-tiba HP ku berbunyi. Aku terkejut dan langsung berlari dan mematikan suara HP ku. Ternyata aku mendapat SMS dari temanku, dan aku baru ingat kalau aku ada janji dengan mereka. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang langka ini, meskipun tabu tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Akhirnya kubatalkan rencanaku dengan teman-temanku. HP aku matikan, dan aku kembali menghadap Yenny yang tidur bagaikan patung. Ku kocok sebentar penisku yang sekeras batu dan kulanjutkan kembali menodai saudaraku. Siapa suruh dia begitu cantik dan merangsang gairahku. Ku angkat roknya sampai di atas lembah cintanya. Spontan saja kejantananku bergetar dengan kuat, sekujur tubuhku serasa lumpuh dengan gairah yang kurasakan. Tidak kusangka ia mengenakan celana dalam G string berwarna hitam yang sangat kecil. Bagian depannya hanya berupa segitiga kecil yang berpangkal di tempat bulu pubik tumbuh, hebatnya lagi Yenny mencukur bulunya sampai bersih. Kain yang menyentuh bibir vaginanya tidak lebih dari 2 cm sehingga terbenam di dalam bibir vaginanya yang berwarna merah muda segar. Secara tidak sadar aku melepaskan desahan nafsu dan hasratku. Kusentuh segitiga kecil yang seksi itu, bahannya benar-benar halus dan lembut. Kutarik garis lurus ke arah gua cintanya. Bagaikan petir yang menyambar tubuhku, ternyata vaginanya terasa basah dan licin. Jari tengah kananku bolak balik menelusuri garis kenikmatannya. Makin lama makin terasa basah. Madu cintanya pasti terperangkap di dalam.
Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, akupun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya. Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran disekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string nya. Mulutku langsung menampung dan menyedot madu yang mengalir dengan deras. Aku terus menyedot bagaikan vacuum. Tak dapat dihindari, suara sedotan pun terdengar nyaring. Aku tidak melihat lagi bagaimana ekspresi atau keadaan Yenny karena malam ini Aku akan bercinta dengan saudaraku. Setelah mereda, kukulum bibir vaginanya. Aku behenti sejenak dan memperhatikan bibir vaginanya yang mekar bagaikan bunga. Kugunakan ke dua jariku untuk membuka pintu kenikmatannya, lidahku langsung menelusuri sisi dalamnya. Klitoris adalah sasaran utamaku. Kukulum dan lidahku menari dengan irama sedang. Klitorisnya tak dapat menolak ajakan dansaku dan bergerak mengikuti iramaku. Aku dapat merasakan tubuh Yenny bergetar dan sedikit bergerak. Ini adalah tanda yang bagus. Ia pasti menikmatinya. Kunaikkan iramaku dan lidahku berdansa dengan liar. Tubuh saudaraku menggeliat dan otot-otot pinggulnya bergetar. Aku semaki terpacu dan bernafsu. Kuvariasikan gerakan lidahku dan kadang-kadang ku gigit dengan lembut. Tubuh Yenny semakin tidak terkendali. Kunaikan pandangan mataku dan kulihat matanya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, tangan dan kakinya pun ikut bergerak.
Aku masih ingin menikmatinya lebih lama, ku arahkan lidahku ke dalam gua kenikmatan duniawinya. Kujulurkan lidahku sejauh mungkin dan kujelajahi semua bagian dalamnya yang hangat dan lembut. Cairan hasratnya terus mengalir dan membasahi hidung dan daguku. Yenny sangat menikmatinya sama seperti aku. Aku jadi ingin bercinta dengannya dalam keadaan sadar, pasti akan lebih seru lagi. Aku iri sekali dengan suaminya, tetapi malam ini Yenny adalah milikku. Aku kembali pada klitorisnya. Tidak lama, aku mendengar suara desahan halus yang bagaikan musik di telingaku. Desahannya makin kencang dan cepat, pinggulnya terangkat dan otot-otonya mengejang, untuk sesaat tidak terdengar desahannya. Setelah beberapa detik pinggulnya mendarat kemabli ke kasur, Yenny kembali mendesah dengan penuh kenikmatan, otot-ototnya mengejang dan mengendur beberapa kali dan madu cintanya kembali membanjir keluar. Tidak kusia-siakan sedikitpun madu yang keluar. Badannya mulai tenang, tapi kini giliranku. Kuposisikan tubuhku di atasnya dan bertumpu dengan tanganku. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka. Dengan sedikit dorongan kejantananku masuk ke dalam lembah kenikmatan yang hangat. Badan Yenny sedikit terangkat laluturun lagi. Kudorong lagi penisku hingga setengah panjangnya. Yenny kembali menggeliat, dan mulutnya terbuka lebih lebar dan kepalanya sedikit terangkat. Kutarik ke luar sampai ujung kepala penisku lalu kudorong masuk lagi untuk beberapa kali, tidak ada hambatan yang terjadi, yang ada hanyalah jalan tol yang mulus. Kali ini kudorong masuk semuanya. Vaginanya terasa kencang dan hangat. Aku tidak berani menimpanya jadi kusangga tubuh bagian atasku dengan tangan, pinggangku bergerak perlahan-lahan. Aku tidak berani terlalu cepat dan kencang, tapi aku jadi penasaran minuman beralkohol apa yang dia minum. Belum pernah aku bersetubuh dengan gerakan selambat ini, alhasil aku dapat merasakan semua sensasi yang terjadi pada waktu mendorong dan menarik. Yenny kembali mendesah.
Kuangkat kaki kanannya dan posisi Yenny bertumpu pada sisi badan sebelah kiri. Kupeluk kakinya yang menggairahkan dan kaki kiriku berada di depan, seperti posisi berlutut dengan satu kaki. Kuposisikan kejantananku pada gerbang kenikmatan cintanya dan kudorong masuk dan kutarik keluar dengan perlahan. Kubelai-belai kakinya yang mulus dan kupeluk bagaikan guling. Kembali kulahap jari-jari kakinya. Ini benar-benar menakjubkan, orgasmeku sudah berada diambang kenikmatan. Ingin sekali kukeluarkan madu murniku di dalam goa cintanya. Kukembalikan posisi Yenny sehingga ia tidur terlentang. Kuangkat ke dua kakinya membentuk huruf V. Kutarik penisku sampai hampir keluar dari pintu surga dunianya, kemudian kudorong masuk hingga ke pangkalnya. Setiap dorongan masuk yang mantap selalu membuat tubuh Yenny menegang. Melihat respons yang indah ini, kupercepat irama percintaanku. Ternyata memang benar, tubuhnya menggeliat dengan hebat. Suara merdunya kembali terdengar menyanyikan puncak kenikmatan duniawi yang hanya dapat dicapai dengan orgasme. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi dengan hebat, dapat kurasakan dinding-dinding vaginanya menegang dengan kuat kemudian merenggang sebentar dan menegang lagi. Aku pun semakin bernafsu menyetubuhinya. Orgasme yang melanda Yenny sungguh hebat, meskipun tidak sadar tetapi organ seksualnya masih bekerja dengan baik. Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan, akhirnya tibalah waktuku untuk menikmati indahnya dunia. Kucabut kejantananku, dan kuposisikan diriku di bawah dagunya. Tangan kiriku dengan intensif mengocok penisku yang hampir meledak. Tubuhku bergetar dengan sangat kuat, kesadaranku diambil alih oleh dahsyatnya orgasme. Kutempelkan ujung penisku pada pipi kirinya, semprotan pertamaku yang begitu kuat mencapai alisnya. Guncangan tubuhku yang kuat menggeser posisi penisku ke dagu Yenny. Disinilah aku menghabiskan empat semprotan terakhir. Lima gelombang ejakulasi yang panjang, membuat tubuhku melayang.
Setelah tenang, aku memperhatikan hasil karyaku. Ada sebuah garis putih dari alis kirinya, memanjang ke mata dan pipinya dan berakhir di dagunya. Dagunya dipenuhi oleh madu cintaku sampai mengalir sepanjang lehernya. Ada cukup banyak maduku yang mendarat di bibirnya, aku yakin ada yang masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Yenny menelannya, spontan aku terkejut dan menjadi terangsang lagi. Wajahnya yang cantik berhiaskan madu putihku membuatnya begitu cantik dan menggairahkan. Aku segera mengambil HP dan memotretnya dengan kamera HP. Kuhabiskan seluruh memory untuk fotonya. Aku berpose dengan penisku di bibirnya, dan juga ketika penisku memasuki gerbang kenikmatannya. Ini adalah koleksi yang sangat berharga.
Nama gue Rico, gue udah married and punya anak satu. Umur gue saat ini 28 tahun, isteri gue juga seumur, namanya Iin. Anak gue baru umur 3 tahun, and dia baru masuk Playgroup. Nah, di sekolahan anak gue inilah, isteri gue kenal sama nyokapnya temen anak gue. Namanya Witta. Sebenernya si Witta ini orangnya ngga cakep-cakep amat, yah, lumayan-lah. Menurut gue sih, mendingan isteri gue.
Makanya, sewaktu kenalan sama si Witta ini, gue sama sekali ngga ada pikiran yang macem-macem. Sampai lama-kelamaan isteri gue mulai akrab sama si Witta. Mereka sering pergi sama-sama. Nah, suatu hari, si Witta telpon isteri gue buat ngasih tau bahwa dia sekeluarga lagi dapet voucher menginap satu malem di sebuah Hotel bintang lima di Jakarta. Dia suruh isteri gue dateng buat nyobain fasilitas-fasilitas yang disediain hotel tersebut. Nah, karena ada kesempetan buat berenang, fitness, dll gratis, maka gue berdua ngga menyia-nyiakan kesempatan deh. Siangnya gue berdua nyusul ke hotel tersebut. Sesampainya di sana, gue berdua langsung menuju ke kolam renang, karena si Witta udah janjian nunggu disitu. Bener aja, begitu ngeliat gue berdua dateng, si Witta langsung manggil-manggil sambil melambaikan tangannya.”Hai In, Ric…”
“Hai Wit…..mana suami sama anak loe?”tanya isteri gue.
“Biasa, dua-duanya lagi tidur siang tuh…”kata si Witta.”Eloe berdua aja…mana anak loe?” “Ngga ikut deh, Wit… abisnya repot kalo ngajak anak kecil” kata gue.
“Ya udah, sekarang gimana, elu berdua mau berenang ga? Atau mau Fitness aja?”
“Langsung Fitness aja deh, Wit” Gitu deh, setelah itu kita bertiga langsung menuju ke tempat Fitnessnya. And setelah ganti baju di locker room, kita bertiga mulai berfitnes-ria. Asik juga sih, sampai-sampai ngga terasa udah hampir tiga jam kita fitness. Wah, badan rasanya udah capek bener nih. Setelah selesai kita bertiga terus bilas di ruang ganti, dan langsung menuju ke ruang Whirpool. Nah, sampe disini kita bertiga bingung, sebab ruang whirpoolnya ternyata cuma satu. Wah gimana nih? Tapi akhirnya kita coba2 aja, and ternyata bener, cewek sama cowok jadi satu ruangannya. Wah, malu juga nih…apalagi si Witta, soalnya kita bertiga cuma dililit sama kain handuk. Setelah masuk ke dalem, gue tertegun, karena di dalam gue lihat ada cewek yang dengan santainya lagi jalan mondar-mandir dalam keadaan…..bugil. Wah….gawat nih. Setelah gue lirik, ternyata si Witta juga lagi ngeliatin tuh cewek yang kesannya cuek banget. Selagi kita bertiga bengong-bengong, tau-tau kita disamperin sama locker-girlnya.
“Mari mbak, mas,…handuknya saya simpan” kata si Mbak locker itu dengan suara yang halus. “Ha?.. disimpan…..?” tanya gue sambil kebingungan…. “hi-hi-hi….iya, mas, memang begitu peraturannya,…biar air kolamnya ngga kotor..” sahut si Mbak dengan senyum genit. “Wah…mati deh gue”,batin gue dalem hati, masa gue musti berbugil ria di depan satu, dua, tiga…empat orang cewek sih? Sementara itu gue liat isteri gue sama si Witta juga lagi saling pandang kebingungan. Akhirnya gue yang memutuskan,”Hm..gini deh, mbak…kita liat-liat aja dulu….nanti kalo mau berendam baru kita taruh handuknya di sini”
“Iya deh, mas….”kata si Mbak lagi sambil tersenyum genit. Terus dia langsung berbalik jalan keluar ruangan.
Setelah tinggal bertiga, isteri gue langsung memandang si Witta “Gimana nih, Wit?”
Selagi si Witta masih terdiam bingung, isteri gue langsung ngomong lagi “Ya udah deh…kita terusin aja yuk” katanya sambil melepaskan handuknya.
“Udah deh, Wit….buka aja…..ngga apa-apa kok” kata isteri gue lagi.
“Bener nih, In? Terus si Rico gimana?” tanya si Witta sambil melirik malu-malu ke arah gue. Pada saat itu gue cuma bisa pasrah aja, and berdoa moga-moga burung gue ngga sampe bangun. Sebab kalo bangun kan gawat, si Witta bisa tau karena gue cuma dililit handuk doang.
“Ngga apa-apa… anggep aja kita kasih dia tontonan gratis” sahut isteri gue lagi. Gawat juga nih, gue bener-bener ga nyangka kalo isteri gue sebaik ini. Sebab biasanya dia cemburuan banget. Akhirnya pelan-pelan si Witta mau
juga ngelepasin handuknya. Aduh mak…… begitu dia lepas handuknya, gue langsung bisa ngeliat dua buah teteknya yang membulat…. and…. jembutnya yang … gile….. lebat banget!! Langsung aja gue menelan ludah gue
sendiri….sambil menatap bengong ke tubuh si Witta. Ngelihat keadaan gue yang kayak orang linglung itu, isteri gue langsung tertawa geli. Sementara si Witta masih berusaha menutupi memeknya dengan kedua tangannya.
“Kenapa Ric…..Jangan bengong gitu dong, sekarang eloe yang musti buka handuk luh” kata isteri gue lagi. Busyet…. masa gue disuruh bugil di depan si Witta sih? Tapi karena takut kalau-kalau nanti isteri gue berubah
pikiran, langsung aja deh gue lepas handuk gue. Seiring dengan gerakan gue ngelepas handuk, gue lihat si Witta langsung membuang muka jengah.
“Lho, kenapa Wit…. ngga apa-apa kok,… tadi si Rico juga ngeliatin body luh, sampe terangsang tuh….lihat deh” Kata isteri gue lagi sambil menatap burung gue. Akhirnya si Witta ngelirik juga ke burung gue, and…wah…dasar
burung kurang ajar, begitu diliatin dua orang cewek, perlahan tapi pasti dia mulai bangkit. Pelan-pelan mengangguk-angguk, sampe akhirnya bener-bener tegang setegang-tegangnya. Wah, mokal banget deh, gue…
“Tuh-kan, Wit…benerkan die udah terangsang ngeliatin body luh….”kata isteri gue lagi…… Ngeliat burung gue yang udah tegang bener, akhirnya dua-duanya ngga tahan lagi.. pada tertawa terpingkal-pingkal. Ngedenger suara ketawa mereka, cewek yang sendirian tadi langsung nengok…. and begitu ngeliat burung gue, die juga langsung ikut ketawa.
“Wah, dik…. dia udah ngga tahan tuh….”katanya pada isteri gue, sambil ngelirikin burung gue terus. Akhirnya daripada terus jadi bahan tertawaan, langsung aja deh, gue nyebur ke kolam whirpool. Ngga lama kemudian isteri gue and si Witta nyusul. Akhirnya kita berempat berendam deh di kolam. Tapi ngga lama kemudian si Cewek itu bangun,…”Mbak udahan dulu yah, dik……. MMM… tapi jangan disia-siakan tuh…”katanya sambil menunjuk ke selangkangan gue lagi. Buset nih cewek, rupanya dari tadi die merhatiin kalau burung gue masih tegang terus.
Langsung aja gue berusaha tutupin burung gue pake kedua telapak tangan. Sambil tersenyum genit, akhirnya cewek itu keluar ruangan. Nah, begitu tinggal kita bertiga, isteri gue langsung pindah posisi. Sekarang jadi gue yang ada ditengah-tengah mereka berdua. “Ric .. dari tadi kok tegang melulu sih?” tanya isteri gue sambil
menggengam burung gue. Gue cuma bisa menggeleng aja sambil melirik si Witta. “Ih…keras amat, kayak batu” kata isteri gue lagi. Lalu, tanpa gue duga dia langsung ngomong ke si Witta “Sini deh Wit… mau cobain megang burung suami gua ngga nih?”Haa? Gue sama si Witta jadi terbengong-bengong.
“Bbb….bboleh, In?” tanya si Witta. “Boleh, rasain deh…. keras banget tuh” kata isteri gue lagi. Pelan-pelan, si Witta mulai ngegerayangin paha gue, makin lama makin naik, sampe akhirnya kepegang juga deh, torpedo gue. Wuih, rasanya bener-bener nikmat.
“Iya lho, In…. kok bisa keras begini ya. Pasti enak sekali kalo dimasukin yah, In” kata si Witta lagi sambil terus mengelus-ngelus burung gue. Wah, gue udah ga tahan, tanpa minta persetujuan isteri gue lagi, langsung aja deh, gue tarik si Witta, gue lumat bibirnya…. sambil tangan gue meremas-remas teteknya.
“Akh…” Witta menggelinjang. Langsung gue angkat si Witta dari dalam air, gue dudukin di pinggiran kolam… kakinya gue buka lebar-lebar, and.. langsung deh gue benamin wajah gue ke dalam selangkangannya, sehingga si Witta semakin mengerang-ngerang. Sementara itu isteri gue tetap giat mengocok-ngocok burung gue. Akhirnya karena udah ngga tahan lagi, kita bertiga naik ke pinggiran kolam.
“Gantian dong, Wit…. biar si Rico ngejilatin memek gue, gue juga kepengen nih…..” kata isteri gue dengan bernafsu. Karena dia udah memelas gitu, langsung aja deh, gue jilatin memek isteri gue. Gue gigit-gigit kecil clitorisnya sampe dia merem-melek. Witta pun ngga tinggal diam, ngeliat gue lagi sibuk, dia langsung aja meraih burung gue, terus dimasukin ke dalem mulutnya. Wah…..ngga nyangka, ternyata hisapannya bener-bener maut. Rasanya kita bertiga udah ngga inget apa-apa lagi, ngga peduli kalau-kalau nanti ada orang yang masuk.
Setelah beberapa lama, isteri gue ternyata udah ngga tahan lagi. “Ayo, Ric… cepetan masukin……… gue udah ngga kuat lagi nih…” pintanya memelas. Akhirnya berhubung gue juga udah ngga tahan lagi, gue cabut aja
burung gue dari dalem mulut si Witta, terus gue masukin ke dalem memek isteri gue. Akh……bener-bener nikmat, sambil terus gue dorong keluar-masuk. Witta ngga tinggal diam, sambil meremas-remas tetek isteri gue, dia terus ngejilatin buah Zakar gue. Wah… rasanya bener-bener……. RRRUUUAAARRR BBBIIAASA! Ngga lama kemudian, mungkin karena udah terlalu terangsang, isteri gue menjerit kecil…. meneriakkan kepuasan…. sehingga gue merasakan sesuatu yang sangat hangat di dalem lubang memeknya. Ngeliat isteri gue udah selesai, si Witta langsung bertanya dengan wajah harap-harap cemas..”Nggg… sekarang gue boleh ga ngerasain tusukan suami luh, In?”
“Tentu aja boleh, Wit….” jawab isteri gue sambil mencium bibir si Witta. Mendapat lampu hijau, Witta langsung mengambil burung gue yang udah lengket (tapi masih tegang bener) terus dibimbingnya ke dalam lubang memeknya yang ditutupi semak belukar.
“Aaakkkhhhhh….” desis si Witta setelah gue dorong burung gue pelan-pelan.”Ayo, Ric…. terus, Ric… I Love You…” keliatannya si Witta bener-bener mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Sambil gue goyang-goyang, isteri gue menjilati teteknya si Witta. “Aduh, In….Ric….I love you both”…Pokoknya selama gue dan isteri gue
bekerja, mulut si Witta mendesis-desis terus. Kemudian, mungkin karena isteri gue ngga mau ngedengerin desisan si Witta terus, akhirnya die bangun dan mengarahkan memeknya ke muka si Witta. Dengan sigap Witta menyambut memek isteri gue dengan juluran lidahnya. Sampai kira-kira sepuluh menit kita bertiga dalam posisi seperti itu, akhirnya gue udah bener-bener ga tahan lagi…dan……AHHHHH…….gue merasakan desakan si Witta mengencang, akhhh…..akhirnya jebol juga pertahanan gue. Dan disaat yang berbarengan kita bertiga merasakan suatu sensasi yang luar biasa…..Kita bertiga saling merangkul sekuat-kuatnya, sampai……. aahhhh……………….
Begitulah, setelah itu kita bertiga terkulai lemas sambil tersenyum puas…….. “Thank you Rico,…Iin……ini bener-bener pengalaman yang luar biasa buat gue..”
“Hahaha…sama, Ric……gue juga bener-bener merasakan nikmat yang yang ngga pernah gue bayangin sebelumnya. Sayang suami eloe ngga ikut yah, Wit”kata isteri gue…..”Gimana kalau kapan-kapan kita ajak suami elu sekalian, boleh ga, Wit?”
“Bener In…ide yang bagus, tapi kita ngga boleh ngomong langsung, In….musti kita pancing dulu..”kata si Witta.
“Setuju” sahut isteri gue…”Gimana Ric…. boleh ga?” Untuk sesaat gue ngga bisa ngejawab….bayangin, masa gue musti berbagi isteri gue sama suaminya si Witta? Rasanya perasaan cemburu gue ngga rela…..tapi, ngebayangin sensasi yang akan terjadi kalau kita main berempat sekaligus… wah……… “Boleh, nanti eloe atur yah, Wit……biar gue bisa ngerasain lagi hangatnya lobang memek loe….haha..”akhirnya gue menyetujui……
“Bagaimana rencana Go Internasionalmu, nez..??”
Perkataan kakaku itu membuyarkan lamunanku, saat ini kami sedang meluncur menuju sebuah Hotel berbintang 5 untuk memenuhi undangan Show kecil, Walau show kecil ini cukup memiliki nilai tambah yang besar untukku karena akan dihadiri oleh seorang produser Keturunan Arab yang akan memproduseri Go Internasional-ku, Selain dia seorang Producer yang cukup besar di United Kingdom ( Inggris ), Koneksinya pun cukuo besar untuk daerah Eropa lainnya..
“Ya “Sheik” itu bilang dia akan membicarakan hal itu dalam waktu dekat setelah dia melihat performance gue” Jawabku “hahaha koq aneh, dia kan udah liat semua rekaman + Konser-konser lu??? Tanya kakaku,, ” Ga taulah, Lagi buat apa gue pusing, Toh saingan gue buat go internasional Cuma si Siti itu ga Level lah, Belom dia ribet ma baju ketatnya hehehe” Jawab ku, disusul tawa kakakku…
Tak lama Kami pun sampai di Hotel itu aku-pun segera menuju belakang ballroom dan menuju ruang rias dan ganti, disana sudah menunggu assisten rias dan para penari latarku…Stelah berias dan berganti pakaian dengan Tank Top Hitam berbelahan dada rendah dan celana pendek ketat abu2. Ya ini memang pakaian kostum standard untuk show-show kecil begini…Buat apa invest besar untuk show dengan bayaran gak seberapa kaya gini, Matre?? Ini bisnis men..Hehehe
Pukul 7 pas MC Kacangan yang berdiri di panggung memanggil namaku..
Akupun segera melangkah ke atas panggung di-iringgi para penari latarku..
Ballroom untuk 200 orang itu terlihat penuh bahkan OverCapacity karena aku melihat cukup banyak orang yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk..Ya biasalah buat Konserku bener gak???heheh^^
Akupun mencari Tempat dimana Sheik itu duduk akupun menemukan-nya di deretan paling depan… Ya Sheik itu adalah Orang dengan Paras Arab-nya yang kental, Sheik Ahmed nama lengkapnya senggaknya itu yang aku tahu hehehe.Dibalut dengan pakaian Khas Sono-nya Orang yang berumur kira-kira 50an dan bertinggi sekitar 190-an Cm mungkin Apalagi bulunya yang lebat..Eh Jangan ngeres dulu loe..Gue cuma tau dari Tangannya aja udah lebat gitu…
Sebelum memulai Show itu aku pun menyempatkan diri untuk melirik ke arah Sheik dan memberikan senyuman nakal kepadanya,.. Dia pun membalas senyumanku ya Lelaki dimana juga sama hehehe…Dan akupun memulai Show ku itu
Akhirnya setelah 1 1/2 jam dengan diiringi riuh penonton akupun meninggalkan Panggung dan menuju Ruang Ganti lagi untuk berganti pakaian apalagi sekarang gantian perut-ku yang konser karena kelaparan..hehehe
Setelah berganti pakaian akupun menuju cafe di Hotel itu dimana Kakak-ku sudah menunggu dan sedang berbicara serius dengan Sheik Arab itu…
Akupun segera mengambil tempat di dekat kakak-ku, Setelah memesan makanan akupun mengambil air Hexagonal ( masa Aqua gitu loh hehehe ) yang sudah disiapkan oleh kakak-ku dan akupun mulai berbasa-basi tentang Kontrak idamanku itu..
“Bagaimana dengan Pertunjukan Ku tadi Sheik???” Ya aku harus sedikit Gaul untuk menunjukan seolah-olah aku tidak terlalu berharap padanya…
“Great, it’s absollutelly amaizing, Tinggal beberapa masalah teknis saja yang perlu diperbaiki, selain itu Bahasa Inggris dan Performance U sudah bagus, Saya yankin kamu akan Menjual” Jawabnya dengan mengebu-ngebu…
“Ooo, berarti Masalah Kontrak tinggal masalah waktu donk” Tanyaku manja..
“That’s Ok, Gimana kalau kamu datang ke sini besok?? Saya tinggal di Penthouse No. 8″ Tanyanya membalas pertanyaanku…
Kakak-ku Yang bodoh malah menyela..
“Gmana Kalau Lusa saja Sheik?? Karena kami memiliki pembicaraan kontrak lain besok.” Akupun segera membalas ucapan kakak-ku, dia bisa saja menghancurkan masa depanku kalau dibiarkan…
“Ooo, Ga perlu Sheik, buat saya ok,ok saja besok urusan kontrak lain bisa diselesaikan oleh koko saya koq, besok saya pasti datang..OK???”
Sheik terlihat kebingungan, “Ya sudah saya bisa kapan saja tapi kalau besok itu sangat baik karena Lusa sore saya pulan dan paginya haru bertemu dengan Teman-teman saya..”
“Ok,besok saya pasti datang hehehe” Jawabku, Kakak-ku tampak melihat tajam kearahku, tak lama makanan ku datang sebuah chicken Mozarella dan Sheik pun mempersilahkan ku untuk menyantap makan malam-ku, sementara itu dia berbincang-bincang yang tidak penting dengan kakak-ku..
Tak lama aku pun menyelesaikan makan malam ku, mungkin aku juga kelaparan hehehe,,Kami pun berbincang sebentar dan memutuskan untuk pulang beristirahat..
Setelah sampai di mobil terlihat kakak-ku yang keheranan dengan respon ku tadi dia terus bertanya dan terdengar cukup marah dengan keputusan-ku…
” Lu yakin bisa ngurusin kontrak sendiri??” bentak kakak-ku.. “Udah dech lu urusin tuch Kontrak kecil laen, Lagi lu pikir lu lebih pinter dari gue..Lu nyadar donk kalo lu Kuliah aja ga lulus, Ga da gue lu bisa apa!!…” Kakak-ku tampak sangat kaget dengan hardik kan ku itu, Wajahnya tampak sangat marah…Dan kami pun meluncur dalam diam…Sory bro tapi ini bisnis…
************************************************** **********
Ya akhirnya siang itu aku pun meluncur sendirian untuk menemui Sheik itu di Hotelnya pembicaraan ini harus berhasil pikirku..
Kakaku yang bodoh itu tetap mengurusi pertemuan dengan klien lainnya untuk Show ku yang lainnya
Dia terlalu bodoh untuk memilih peluang yang lebih besar pikirku..
Akupun segera menuju penthouse tempat sheik itu menginap sebuah penthouse senilai 14 juta rupiah semalam dengan garasi dan sebuah pool kecil yang lucu…
Dengan Setelan Kemeja putih dan rok jens pendek yang keduanya, dengan sendal berhell pendek dan kacamata minusku ( Tentu saja ini kan bisnis ) akupun turun dari mobilku, Sheik itu sudah menyambutku, dengan pakaian kebesaranya, kami pun menuju ruang tamu dimana sebuah sampagne sudah disiapkan olehnya..
“Bagaimana hari ini??” tanyanya padaku.. Jelas sekali basabasinya apalagi karena dia sudah cukup lama tinggal di Malaysia aksen melay bercampur aksen Inggris dan Arabnya menggelikku…
“Baik, Apalagi hari ini pembicaraan bisnis kita akan mencapai final kan”
“Hahaha, tampaknya kau sangat pintar dan berambisi ya…” jawabnya..
sambil memintaku meminum sampagne yang sudah disediakan olehnya dan mengajak-ku untuk Cherss
“Sory, tapi aku ga boleh minum” Jawabku, sedikit berbohong ga apalah walaupun kenyataanya Clubbing adalah salahsatu Hoby-ku walaupun gak disini, anythink for bisnis..hehehe
“Great, great sayapun hanya mau ngetes Agnes saja” sambil meminum sampagne-nya..
“Soal Kontrak Saya bisa kasih sesuai keinginan kamu, Tinggal masalah teknis saja,” Lanjutnya…
“Soal Teknis???” Tanyaku kurang paham
“Hahaha, saya sudah tahu, bisnis everywhere is same,..Saya juga tahu betapa maniac-nya kamu manis,..”
Aku begitu terperanjat mendengarnya, aku sudah lama sekali tidak melakukan “itu” untuk karier-ku aku pertama melakukan itu dengan Mas Tantowi si Fidopil itu ketika memulai karier-ku, itu pun hanya sekedar blowjob waktu berumur 13 tahun,…Lalu aku pun melakukan lagi dengan Ram Punjabi saat memulai karierku di sinetron “Pernikahan Dini” dialah orang yang merebut keperawanan-ku namun dia memberikan balasan setimpal dengan promosi besar-besaran dan membiayai album remaja perdana-ku…Walau aku pun sering melakukan dengan tema-teman ku.
Pasti diantara mereka ada yang dendam karena aku campakan dan membuka aib ini…
“Hah!!!…Maksud Sheik apa sich???”Tanyaku berusaha polos dan tetap tenang…
“Kamu gax usah munafik lah…”Sambil berdiri dan berpindah duduk kedekatku…Dia mulai menciumi leherku dan berkat ” Kamu masih mau Kontrak ini kan..??
Harga diriku sebagai Penyanyi dan seorang wanita yang besar mulai berkecamuk dalam batinku…Walaupun aku sering bermimpi untuk menikmati sex dengan orang asing yang lain ( Setelah si India Punjabi, apa lagi saat itu aku gak ngerti apa-apa ^^), tapi aku takut ini hanya jebakan saja..
Apa lagi aku menyadari nafsu sex ku yang besar bila sudah ON… Namun sapuannya ke leher dan telinga ku mulai membangkitkan nafsu ku, Lidahnya yang besar dan kemampuannya sangat ahli terus membuat nafsu ku mendesir naik…
Sebuah keberanian yang disertai dengan ego dan harga diri membuatku berani untuk melepaskan diri dan menghardik-nya, “Bajingan, Keparat, Mank lu pikir lu siapa??” Hardik-ku dengan kasar…Namun tangan-nya yang panjang dan kuat menarik tangan-ku…” Dia pun berkata dengan tenang-nya “Ini pilihan lu???Maniax??” Dasar Bajingan dia bisa berkata itu dengan tenang-nya..
Aku pun hanya bisa diam saja dan berserah diri selain aku sangat mendambakan Kontrak yang aku idam-idamkan, nafsu seks-ku pun sudah terlanjur muncul…
Dia menarik tubuh kecil-ku ( untuk ukuran rasaksanya ) dengan entengnya.. Dia menaruhku pada pangkuannya, dia terus menciumi dan menjilati bibir dan lidahku, Harga diriku yang tinggi beserta kesombonganku masih bisa menahanku untuk membalas ciumannya…
Sensasi yang kurasakan ditambah stimulasi yang sangat tinggi, semakin membuat nafsuku meningkat, sambil memasukan lidahnya ke telinga-ku, tangannya mulai menjalari daerah dadaku, dia mulai memainkan payudaraku yang masih diselimuti BH kuning dan Kemeja ketat putihku,..
Satu persatu kancing kemeja ku dibuka-nya dan dengan tangganya yang besar dia mulai membuka Bagian depan BH-ku…Dadaku yang tidak terlalu besar pun menyembul keluar, dia mulai mengalihkan perhatiannya dengan menjilati Puting ku yang berwarna coklat kemerahan itu…
Sensasi yang begitu besar makin meningkat dalam diriku, birahiku mulai mengalahkan harga diriku,..Dia terus menjilati,menggigit dan mempermainkan puting kiriku, sedangkan tangan kanan-nya memperkosa dengan kasar payudara kanan-ku…
Rasa nikmat yang begitu besar makin tak terbendung olehku..Apalagi ukuran tangan-nya yang besar yang mampu menutupi seluruh payudaraku ( Tidak seperti my another sex partner ) yang tidak besar itu, memiliki kekuatan yang besar namun lembut sehingga makin memancing nafsu -ku…
“Slurp,slurp, slurp” Hanya bunyi itu yang terdengar diiringi suara desahanku yang sudah tak tertahankan, Setelah puas bermain dengan payudaraku, Tangan kanan-nya mulai menjelajah daerah sensitifku yang lain…Yupz dengan tangan monsternya itu dia mulai menjelajahi daerah Vagina-ku dengan entengnya dia menarik lepas sandal ku dan tanganya mulai masuk ke daerah “V” ku yang masih dibalut celana dalam ku…Oh aku lupa kenapa hari ini aku harus menggunakan celana G-string itu…
Sheik menarik celana dalam G-String merahku yang mulai basah itu dan tersenyum ” You’re so bitch…” Kata-katanya yang sangat kasar namun anehnya malah membangkitkan nafsu-ku lebih tinggi… Dia melakukan hal yang belum pernah kulihat sebelumnya dia mulai menciumi dan menjilati celana dalamku tapi tunggu dulu tangan satunya masih mempermainkan buah dada-ku dengan kasar seolah tak membiarkan-ku bernafas lega..
Tingkah-nya yang menjijikan itu membuat-ku makin bernafsu apa aku sama perfertnya dengan dia..
Namun hal itu tidak berjalan lama…
Tangan-nya yang besar itu mulai mengelus-elus kemaluanku…Apalagi aku baru saja mencukur habis kemaluan-ku, sehingga sekarang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus saja…
Rok jeans pendek-ku yang sudah tersingkap hingga sepinggang itu jelas memperlihatkan kemaluan-ku gundulku itu…
Lagi-lagi Sheik itu berkomentar ” Nice shave” sambil tersenyum…
akhirnya dia berhenti merajai buah dadaku namun dia mulai mencium-ku dengan paksa di bibir!! dan dia mulai memasuki mulutku dengan lidah besarnya itu…
Aku pun berusaha untuk tidak membalasnya…namun dia tidak kehilangan akal dia mulai memainkan jari-jarinya ke Vagina-ku, sentuhan demi sentuhan main membenamkan ku dalam surga duniawi aku pun merasakan vagina mulai terbakar dan membasah…Apa lagi tak lama kemudian dia mulai memasukan dengan paksa jari telunjuknya ke kemaluan ku itu…
Oh tidak terakhir teman ku bahkan bisa memasukan 3 jarinya ke kemaluankudia akan semakin memandang rendah diriku bila dia merasakan lemahnya daya cengkram vaginaku..Aku pun berusaha mengetatkan otot-otot kemaluanku..Namun sebelum itu terjadi aku merasakan sensasi yang sangat berbeda bagaimana sebuah jari tangan bahkan membuat vaginaku terasa penuh oleh sebuah jari itu, bahkan terkesan sangat sulit untuk bisa menjelajah ke dalam, rasa sakit yang menikmatkan…
Rasa dan sensasi ini sangat dahsyat dan tak pernah kurasakan sebelumnya, Sheik pun mulia memainkan jarinya keluar masuk, so gently permainanya sungguh berbeda dengan yang selama ini ku rasakan yang kasar dan dipenuhi oleh nafsu…
Sensasi dahsyat dibagian bawah tubuhku membuatku tak kuasa untuk mendesah disaat itu lidahnya dengan cepat memasuki bagian dalam mulutku bagian dalam mulutku terasa penuh oleh lidahnya dan aku pun tak kuasa lagi untuk tidak membalas permainannya…
Kami pun bercumbu dengan dahsyat untuk beberapa menit sebelum dia merasakan vaginaku sudah tidak seketat tadi dan mulai memasukan jari tengahnya untuk “menyiksa-ku”, aku mulai meronta-ronta rasa perih yang diiringi kenikmatan itu membuat ku tak sanggup untuk mencumbunya lagi aku pun menrintih-rintih kenikmatan, kesakitan juga tentunya…
Aku sungguh tak menyangka Vagina ku sanggup menerima kedua jari itu.. sambil menjilati leherku cara permainanya pun berubah dengan kasar dia mulai memaju mundurkan jemarinya ke Vaginaku..
Jilatan penuh nafsu ditambah, ditambah permainan brutal jemarinya membuatku tak sanggup lagi…Ada sesuatu dalam diriku yang terasa mau meledak…
Setelah menggelijang sesaat akupun baru menyadari sebentar lagi aku akan mencapai organsme.Secara reflek aku memeluk Sheik di lehernya..Ini sangat langka bahkan aku baru mengalami ini tidak lebih dari 2 kali…Aku pun menyiapkan diriku untuk bertahan sedikit lebih lama namun hanya sanggup beberapa detik…merasa jepitan Vaginaku yang meningkat tidak membuat Sheik berhenti bahkan membuatnya malah menambah kecepatan untuk memperkosa vaginaku…
Akupun tak sanggup lagi, akupun menembakan cairan cintaku, namun itu bukan berarti Sheik menghentikan aksinya,… Dia terus memompa tangannya makin kencang,sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya muncul…Oh tidak aku akan berorgansme lagi otot-otot vaginaku kembali mengetat, aku pun memeluk sheik lebih ketat,aku tak sanggup bertahan lagi aku pun berorgansme untuk kedua kalinya…
Kali ini lebih dahsyat bahkan aku pun tak dapat mempercayainya…Cairanku menyembur bagaikan air mancur untuk beberapa detik…Pemandangan yang sangat aneh..Setelah mereda,Seluruh tubuhku terasa lemas aku, bahkan tidak pernah merasa seletih ini… Akupun melepaskan pelukan-ku kali ini tampaknya Sheik puas mempermainkanku di mengeluarkan jemarinya dengan lancar karena dibantu cairan organsme ku….
Sambil mencium keningku, dan membenarkan posisiku yang terbenam dalam pangkuannya dia pun mengatakan.. ” Tampaknya kamu bahkan terlalu lemas untuk membalasku…” Diucapkan dengan nada meremehkan dan disertai senyumannya yang menyeringai….
Lihat saja kataku dalam hati….Selain aku tak mau diremehkan aku pun sudah terlanjur tinggi…Gw pasti bisa bikin lu lemas kaya Yang “lainnya” Pikirku……..
Sheik pun mengambil sampagne di meja dan meminumnya, dia kembali menawari-ku kali ini aku tak lagi menolaknya untuk mengobati dahaga-ku aku pun meminumnya, segelas penuh aku habiskan dengan cepat…
Aku pun bangkit berdiri, ” Mau pulang??Dah nyerah??” Tanya Sheik, Sambil melepas kemeja dan rok serta menaruh kacamataku ke meja yang sudah tidak karuan lagi letaknya.. Aku pun berbalik dan tersenyum “Bisa ga, gax ngeremhin gue,..Lu pikir gue ga bisa meng-KO lu??…
Tampak dia begitu kaget mendengar jawabanku, Aku pun membulatkan tekad untuk meng-KO nya..Hehehe…
Aku pun kembali dalam pangkuannya, dalam keadaan Telanjang Bulat, aku mulai memeluknya dan memasukan siku-siku kakiku ke samping pinggangnya sehingga kini aku bertatap muka dengannya…
Badannya yang besar itu membuat bertatap muka langsung dengan Sheik, padahal aku sudah tegak bersimpuh pada kursi itu…
Aku pun mulai membuka penutup kepalanya yang aneh itu…
Terlihat rambutnya yang mirip orang ambon itu keriting dan kering membuatku tertawa geli…Tampaknya dia mendengar cekikakan keciku itu…
Dengan bernafsu aku mulai menciumi leher, mulut dan telinganya aku yakin dia pun pasti merasakan kenikmatan yang sama bahakan lebih dengan ku tadi…
Tangan sheik mulai membalas permainanku, dia kembali mempermainkan payudaraku, meremas2 keduanya sambil sesekali menarik-narik putingku…
Permainanya makin meningkatkan nafsu-ku aku pun makin meningkatkan ciumanku sambil mencumbunya tanganku mulai membuka pakaian antiknya itu…
Setelah terbuka seluruhnya, sesuai perkiraanku seluruh dadanya dipenuhi oleh bulu yang lebat apalagi tubuhnya yang kekar makin membuat aku bernafsu…aku pun mulai mengalihkan permainanku ke dadanya, aku pun menjilati dan mengulumi pentilnya..
Sesekali aku menengok keatas dan melihat ke wajah Sheik dan menyaksikan Bagaimana dia tampak mulai menikmati ini…Sedikit tawa kemenagan mulai tampah di hatiku..Aku pun semakin meningkatkan permainanan ku…
Tak sengaja aku menyenggol selangkangan-nya..Aku baru teringat kata temanku yang katanya Kemaluan orang Arab sangat besar walaupun dia sendiri belum pernah melihatnya ^^
Tak sabar lagi untuk menyamakan kedudukan aku pun mulai berusaha membuka bagian bawah pakaian Sheik yang seperti rok itu hehehe..
Belum sampai usaha-ku untuk membukanya tiba-tiba Sheik berdiri dan menarik-ku. Aku terkaget dan mulai berpikir karena saat menyenggol selangkanagnya tadi walau terasa besar namun tidak terlalu keras..Jangan2 dia impoten,Pikirku berfantasi.hehehe^^
Tanpa sadar ternyata Sheik membawaku kekamar-nya..
Dia pun langsung duduk di ujung Bed-nya dan kembali mengulumi putingku, Aku yang masih berdiri terpaku kaget dengan nafsunya yang sudah mengebu, Yang gini sebentar juga beres pikirku..
Akupun mulai membalas permainanya, aku pun mulai melepas pakainnya, sehingga kini dia sudah bertelanjang dada sama sekali…Tak lama karena aku ingin segera mengakhiri permainan ini, dengan pikiran sedikit licik untuk mempermalukan Sheik, akupun menerobos untuk melucuti pakaian bawahnya..
Kali ini dia tidak bereaksi seperti tadi dia pun mulai tampak menikmati perlakuanku..Tak lama setelah celananya pun aku lucuti tampak sebuah kemaluan yang cukup besar untuk ukuran yang pernah aku ‘hadapi’ namun seperti pikiranku,kemaluan itu tidak berdiri tegak aku sangat yakin walaupun saat itu masih tertutup celana dalam putihnya…
Dengan nafsu diburu untuk mempermalukannya…Aku pun menarik lepas celana dalam Sheik…Aku pun segera menahan tawa walaupun kemalauan itu cukup besar untuk ukuran yang pernah kulihat namun agak terkulai walaupun sarang burungnya atau apapun itu berbentuk bulat besar…
Akupun tak sanggup menahan tawa…
Dan tampaknya Sheik terkejut dengan reaksi-ku dan mulai memahami maksud tawaku, dia pun menyindir “O, kamu pikir aku impoten ya??, Sadar donk Kamu bahkan belum membuatku terlalu terangsang…” Sindirnya,..Aku pun terkaget, tapi sebagai seseorang yang smart tentu saja aku tak percaya begitu saja..
Aku pun bereaksi untuk mempermalukannya kembali..
Aku menyentuhkan putingku ke batang kemaluanya, sambil sesekali mengocok batang itu..Tidak ada perubahan pikirku..Aku pun mulai tertawa lagi..Namun sebelum tawaku lepas, sheik berkata ” Blow job donk…”, Tentu saja aku menolak,,,” Mank lu pikir gue Perek…”, Namun reaksi Sheik begitu mengagetkan dia menjambak rambutku, yang membuatku membuka mulutku dan langsung mengirimnya kekemaluannya…
Akupun tak kuasa untuk mencegahnya…Aku pun terpaksa melakukan blow job yang merupakan pengalaman pertamaku ini…sambil tetap menjambak rambutku namun tidak keras, dia mulai mengeram kenikmatan…
Sungguh aneh rasanya menjilati sesuatu yang tidak keras seperti ini sambil terus mengocoknya, karena mulutku tak sanggup untuk menampungnya seutuhnya…
Berjalan 10 menit, kali ini perasaan takut mulai menjalari ku…Kemaluan itu mulai membesar dalam genggaman tangan dan mulutku, keras-nya kemaluannya pun makin menambah ketakutanku, aku pun berhenti mengocoknya dan melepaskan tangan ku dari kemaluannya, aku pun berhenti mengulumnya…Kali ini aku terduduk di lantai dan menatap ke arah orang yang duduk di ranjang itu, sambil menatapi kemaluan raksaksa yang berdiri tegak dihadapanku…
Aku memperkirakan fenis itu bahkan lebih besar daripada mistar 30 cm..Namun yang lebih menakutkan adalah diameternya yang tidak masuk akal…
Sheik kini hanya tersenyum simpul dan berkata dengen entengnya ” The Show must Go On”…Mati lah aku pikirku…..
Sheik memaksa ku untuk kembali untuk mengoralnya..Kali ini bukan rasa kemenangan lagi yang ada dalam pikiranku namun rasa takut untuk mengoral Fenis monster itu…
Dengan terpaksa akupun memasukan penis itu ke mulutku, dengan terus menjilati kemaluan itu dia terus saja berkomentar…Batangnya lah atan jangan cuma dijalat tapi dihisap…
Akupun terpaksa mengikuti kemauan-nya akupun menjilati bagian batangnya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu disekitar batang ‘pohonya’..Namun kemauanya semakin menjadi-jadi dia mulai meminta untuk mengoral buah zakarnya…Tentu saja aku menolaknya namun reaksi yang tak terduga lagi-lagi terjadi dia menampar pantatku sampai berwarna kemerahan…
Air mata pun mulai membasahi mataku…”Ok..Ok, tapi stop menamparku”…Dengan terpaksa akupun mengulum buah zakarnya,..Ugh sangat besar dan yang membuat jijik adalah bulu-bulu yang memenuhi kantong semarnya itu…
Sambil terus mengocok dan mengulum seluruh bagian kemaluanya tak terasa 15 menit telah berlalu dan tiba-tiba Sheik mengangkat tubuhku dan meletakkan tubuh ku ke atas ranjang, “Pasti sebentar lagi dia meledak” pikirku sambil terus mengulum dan mengocok kemaluan itu tanpa sadar kami bahkan sudah berposisi 69 dengan aku menindih tubuh besarnya…
Kali ini dia sudah tidak pasif lagi dengan permainan-ku, dia mulai membalas permainan ku…Sensasi yang dahsyat muncul nafsu ku yang tadi diliputi rasa takut kini muncul kembali,,,Sheik mulai menjilati Vaginaku dengan lidahnya yang besar dan sesekali dia pun mengorek2 kemaluan-ku…
Nafsu yang membakar itu membuat ku kesetanan untuk menservice Sheik dengan nafsu yang membara aku pun terus mengulum Sheik itu bahkan terkadang saking nafsunya kemaluan Sheik menyentuh keronkongan-ku…
Sheik terus meningkatkan kinerjanya, sesekali dia memasukan lidahnya dalam kemaluan-ku, sensasi-sensasi dahsyat dan kasarnya permainan jari Sheik membuatku tak konsentrasi lagi melakukan pekerjaan-ku…
“Oh yeah..Huney..Oh My God oh Jessuss…” Tanpa sadar kalimat itu terus kuulangi sambil sesekali melakukan perlawanan…Aku semakin tenggelam dalam permainan Sheik, Aku tak percaya, bahkan aku yang dijuluki maniac oleh teman-twanku dibuatnya tak berdaya seperti ini…
Saat ini aku hanya bisa merintih dan terus terbenam dalam nafsu..Nafas ku semakin tidak karuan…I’m So Helpless…Aku tak pernah mengalami kejadia seperti ini, tak berdaya dalam pelukan seorang lelaki…
Aku hanya sanggup bertahan 20 menit dalam posisi itu, aku merasakan akan segera meledak lagi aku berusaha untuk menahannya..Aku berusaha melakukan perlawanan brutal ke pada Sheik, aku tak mau kalah untuk ke-2 kali…
Saat 2 jarinya terbenam dalam, dalam kemaluan-ku kali ini aku tak sanggup lagi menahannya…Seluruh tulang ditubuhku mengerang, otot-ototku mengelinjang”Aaaaaaaaaa….Oh my Go00000d….”aku pun tak kuasa menahan organsme dahsyat itu lagi
Seluruh cairan cinta yang ada meluncur dengan deras keluar dari kemaluanku..
Selama beberapa detik tubuhku mengelinjang dahsya..Aku bahkan merasa bagaikan dehidrasi..Aku pun tertunduk lemas untuk ke-2 kalinya aku dikalahkan orang yang sama…Sheik membalikan tubuhku jarinya yang dipenuhi oleh cairan kewanitaanku itu ditunjukannya kearah ku..”Come on,lick it..ini kan hasil kerja mu”katanya sambil tertawa…
Aku pun tanpa sadar menjilati jari-jarinya… Rasanya aneh dan sedikit manis…mungkin tercampur dengan rasa ludahnya pikirku…Sesaat kemudian sheik berdiri untuk mengambil air minum dan memberikan-nya padaku..
Aku pun segera meminumnya..Belum habis air di gelasku, Sheik tiba-tiba menindihku..Air minum yang tinggal sedikit itu membasahi ranjang Sheik..
“Kamu harus menyelesaikan apa yang kamu mulai…” Tidak tahu mengapa, kenapa kata-katanya terasa sangat menakutkan bagiku..Sambil menindih tubuh kecilku , Sheik terus mencumuy-ku tanganny terus mengerayangi payudaraku…”Jangan itu ga akan cukup untuk-ku”Protes ku…yang dibalas hanya oleh senyumnya..
Permainanya kini sangat brutal jauh berbeda dengan yang dilakukan-nya tadi..Setelah beberapa menit , dia berhenti… “Udah siap kan??” Aku terperanjat mendengar perkatanya dengan menggunakan tangan untuk membantunya menginvasi kemaluan…Rasa takut yang menjalari dan nafsu yang meningkat membuatku hanya menutup mataku…
Kepala Fenisnya mulai menyentuh kemaluan..Digerakan-nya fenis itu naik turun untuk menjelajahi seluruh bagian muka dari kemaluan-ku..Geli sekali rasanya..kali ini kepala kemaluanya itu tertuju tepat ke mulut Vagina ku..
Rasa sakit mulai membuat ngilu seluruh tubuhku..Otot-otot kemaluan-ku berkontraksi untuk berusaha memperlancar masuk-nya fenis itu..
“oooooh my good…Oooooo” Aku tak kuasa selain untuk mendesah…inci demi inci kemaluan itu menginvasiku, tiap deti terasa sangat lama bagi-ku..Aku hanya sanggup memasukan 3 inci kemaluannya..Diameter kemaluannya jauh lebih besar dari ukuran 2 jarinya…
Dia menarik keluar kemaluanya..Untuk sesaat aku merasa lega walau tidak lama..kali ini dia kembali berusaha membenamkan kemaluanya..Aku pun kembali Meringis,,Dia terus membenamkan kemaluan-nya berulang kali…Kemaluanku terasa sangat ngilu…
Setelah beberapa kali tampak Sheik sangat Frustasi karena belum mencapai kedalaman yang diinginkannya..”Shit, Why your so tight, mereka bilang lu maniac kenapa sempit gini sih??” KAta-katanya membuatku sangat takut dengan mata yang berapi2 dia menarik keluar kemaluanya, ” Oh my god it’s so bad” pikirku..Dengan sekali dorong sekuat tenaga dia memaksa seluruh kemaluanya terbenam dalah kemaluanku…
Aku bahkan merasa kali ini sudah mencapai mulut rahim ku…Bahkan mungkin beberapa cm di dalam mulut rahim ku “Oh shit……..Ooooooooh lu gila ya…YA tuhan Yesus ampunnnn….” Jeritku, Namun Sheik hanya tertawa dan berkata “Tenang Manis, jangan bawa-bawa Tuhan mu…”Sambil tertawa..Aku tahu penderitaan ku belum berakhir…
Walaupun nafsu-ku sudah sangt tinggi tapi senjata yang terbenam dalam kemaluanku membuat ku tak dapat berpikir apapun lagi…
Dengan Seluruh nafsunya dia terus memompa dalam kemaluanku, aku merasa bagaikan diperkosa dalam posisi missionariss..dan tiap tusukan hanya terbalas oleh desahanku…
Dia terus memompaku selama 10 menit sampai aku merasa otot-otot kemaluanku mulai menggelinjang, aku tak sanggup lagi untuk menahan ini aku pun pasrah saja menghadapi organsme ini…
“Aaaaaa my god.Shittttt” desahku.Sambil memeluk erat sheik bahkan sedikit mencakarnya.. 4-0 pikirku, bahkan dengan basahnya kemaluanku tidak membuat kemaluan itu meluncur dengan lebih lancar, bahkan aku dapat melihat jelas gerakan kemaluanya dari luar kulitku…Batang kemaluannya yang meluncur dalam tubuhku bagaikan seekor ular…
Kali ini aku benar-benar tenggelam dalam Birahiku, Tak adalagi yang kuhiraukan..Hanya bagaiman membuat Arab ini organsme secepatnya..Aku mulai menggerakan pinggulku sambil menciumi Sheik, untuk membalas permainannya…
Diluar dugaan, Sheik pun makin hanyut dalam permainan itu dia makin cepat memompa kemaluannya…Tak berapa lama kami pun berganti posisi doggy penderitaanku bertambah karena dengan posisi ini penetrasi-nya semakin cepat, kuat dan dalam..tiapa beberapa menit tubuhku menggelinjang organsme…
2o menit dalam posisi itu tidak membuatnya berhenti..apa daia gak cape, kenapa dia begitu perkasa??kenapa dia begitu kuat…Berbagai pertanyaan menghantui pikiranku…Aku benar2 tak berdaya bahkan dalam kamar itu hanya terdengar lolonganku saja…Tanganya pun tak pernah berhenti menginvasi dada,ckitoris bahkan anus-ku
Terkadang kemaluan itu menginvasi rahimku yang memberikan rasa sakit yang dahsyat,namun didalamnya tersembunyi rasa nikmat yang mendalam…
Sheik meminta posisi woman on top..Aku pun hanya sanggup meng-iyakanya dengan posisi itu aku dapat melihat dengan jelas kemaluanya keuar masuk vagina-ku..
Aku sudah tak sanggup lagi Organsme-organsme yang kurasakan tidak membuatnya melemah, bahkan lebih dahsyat, lebih cepat sungguh hebat Arab ini…
Dalam posisi itu aku tak sanggup bertahan lama dalam posisi yang seharusnya menguntungkan-ku itu, hanya membuat kaki-ku lemas..
Tampaknya Sheik menyadari hal itu dari genjotanku yang melambat…
Dia mengangkat tubuhku dan memaksaku berdiri untuk sesaat aku merasa sangat lega..Aku pun melihat kemaluan-ku yang berwarna sangat kemerahan….
Sheik pun berdiri di lantai dia menciumku dan mulai menggendongku..Dia akan mengerjaiku dalam posisi berdiri, dia menggendongku sambil menggarahkan kemaluan-nya, dan Bless!!!! kemaluanya kembali terbenam dalam kemaluan-ku…
Penderitaan-ku dimulai kembali…Posisi ini belum pernah kucoba sebelumnya..Aku tak tahu harus berbuat apa,hanya menikmati saja permainan Sheik yang dahsyat….”Come On, Bitch..bergerak donk masa mau diem aj” Teriaknya..Sheik yang pendiam dari tadi kali ini terlihat sangat marah..
Aku pun bergerak semampuku, Tubuh-ku sudah sangat lelah.Namun Organsme kembali menyerangku ..Bahkan kini aku sudah tak sanggup lagi berpelukan pada Sheik..Tiba-tiba Sheik berhenti menopangku.Kini aku dikerjainya dalam posisi kepala dibawah untuk mengimbanginya perbedaan tinggi badan aku haru merentangkan tanganku ke lantai…
Dengan Posisi ini Sheik kembali leluasa untuk menginvasi ku kembali..Aku hanya sanggup berteriak meronta..dengan pelan..Aku sudah sangat lelah saat ini.. Organsme-demi organsme terus menyerbuku..Sungguh dahsyat pria ini puji-ku dalam hati…
Pompaan yang dilakukan oleh Sheik tiba-tiba makin cepat…Aku tak sanggup lagi..Orang ini gila pikirku…”oh…Sheik, sayang-sayang..stoopp saayang oooh…”Aku kembali berorgansme panjang, namun kali ini usahaku tidak sia-sia..Sheik pun melolong dia berusaha mengeluarkan Fenisnya dari Vagina-ku namun sedikit terlambat. sedikit spermanya tertinggal dalam vagina-ku..Dan reaksinya yang tiba-tiba itu membuat tubuhku terhempas kebawah, karena dia tiba-tibe menjatuhkan-ku, untuk mengarahkan air mancurnya ke mulutku, dengan terkaget-kaget aku berusaha menelan sperma itu, sungguh bau,banyak dan pekat…
Aku belum pernah melihat sperma sebanyak ini sebelumnya..Sebagian sperma itu meluncur ke dadaku..Setelah sperma habis keluar Sheik memintaku menjilati bersih kemaluanya, sambil dia memoles dadaku dengan spermanya yang tersisa…
Aku mulai tak sadarkan diri,aku terlalu lelah untuk tersadar.. Sebelum aku tertidur.Hanya 1 kata yang terdengar diringgi tawa-nya yang menggelegar..
Mukanya imut sekali, kemasan luarnya lugu. Tubuhnya mengundang selera, mulai dari postur yang tegak, bongkahan pantat yang besar padat berisi, buah dada yang kencang dan tegak, serta mata yang sendu. Image ini seperti menggoda terus pria manapun untuk mencoba dia, tapi jarang ada yang berani karena mereka tahunya Nafa adalah gadis lugu dan baik-baik, mulutnya kerap mengatakan kutipan-kutipan berfilosofi.
Tapi itu dulu. Sudah kelewat banyak yang tahu misalnya, ia suka menenggak Long Island hingga bergelas-gelas dengan muka bersemu kemerahan karena isi kepalanya “loaded with heavy alcohol”. Itu belum cukup, tidak aneh jika alkohol bersaudara dekat dengan sex. Menurut satu penata rias bencong yang menjadi karib Nafa, ia sering menjadi perantara jika ada pria ingin “lebih intim” dengan Nafa.
Hair dresser dan make-up man ini menjadi comblang dengan sejumlah patokan-patokan. Yang dicari adalah tajir, muda, tampan, dan Nafa harus sreg duluan. Maklum, mungkin Nafa belum selihai Sarah Azhari yang bisa tutup mata tutup telinga menghadapi pria mana saja. Setelah mendengar kabar burung ini, team P. A. S segera melakukan penyelidikan terhadap artis “berpantat montok” Nafa U.
Banyak yang tidak percaya kenyataan ini, banyak yang masih menganggap dia adalah gadis alim yang salihah, dan ada juga yang langsung terhenyak ketika diberitahu hal ini lalu membantah dengan keras. Tapi setelah team P. A. S menunjukkan semua bukti dan saksi-saksi, Nafa tidak dapat mengelak lagi.
“Iya deh Mas, saya mau di wawancarai dengan jujur. Tapi saya mohon jangan disebarkan ke publik semua bukti dan saksi ini.”
Setelah mengadakan negosiasi dan sedikit ancaman kepada Nafa U, kami mulai menanyai tentang segala lika-liku kehidupannya.
Banyak orang menganggap tubuh Nafa selalu mengundang birahi setiap lelaki yang melihatnya.
“Ah, masa’ sich? Memang aku selalu merawat tubuhku dengan rajin. Sekarang aku juga lagi diet agar perutku lebih datar dan kenceng. Terus makan sayuran, dan minum jamu. Fitness aku 3 jam sehari.”
Nafa melakukan semua itu untuk mendapatkan bentuk tubuh yang lebih sempurna. Itulah salah satu sifat buruk Nafa U, dia tidak pernah puas akan dirinya sendiri.”Serakah”, itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Lalu kembali ke isu yang menerpanya, bagaimana Nafa menanggapi pengakuan dari hair dressernya.
“Iya Mas, dia benar kok. Gimana lagi ya Mas, sejak putus sama Primus aku ngga’ tau mau kusalurin kemana nafsu birahi aku. Jujur aja Mas, nafsu birahi aku besar sekali. Klo udah gitu aku buru-buru browsing internet, lihat pic-pic hardcore atau penis-penis cowok. Sambil gitu, aku ngocok vaginaku sendiri pake jari aku. Kalo di rumah, aku lihat VCD porno sambil ngocok vaginaku pake penis vibrator dari karet. Besar lo Mas, penis karetnya. Sakit sich waktu kumasukin ke vaginaku, tapi kalo udah masuk semua terus di kocok enak banget dech Mas.”
Primus Yustisio ketika dikonfirmasi team P. A. S tentang hubungan seksualnya semasa masih dengan Nafa Urbach, bersedia menceritakan tentang seorang Nafa Urbach sebenarnya.
“Nafa itu orangnya sombong dan egois, aku selalu nasehatin dia agar lebih mau peduli kepada orang lain. Tapi dia selalu marah-marah. Aku sich sabar menghadapi dia. Tapi karena bosan dengan sikapnya yang arogan itu, aku putus hubungan dengannya.”
Mengomentari tentang nafsu sex Nafa yang besar Primus mengakuinya.
“Ya Mas, nafsu sex Nafa sangat besar. Aku selalu kewalahan menghadapinya di ranjang. Kami sudah melakukan berbagai macam posisi sex yang mungkin dilakukan. Posisi yang disukai Nafa yaitu, aku di bawah sedangkan Nafa duduk di atas penisku. Jadi dia bisa mengontrol kedalaman dan kecepatan penisku dalam memeknya. Kalo saya sendiri suka doggy style. Saya bebas menusuk memeknya sampai paling dalam, sampai Nafa teriak-teriak kesakitan. Sambil kedua tangan saya meremas-remas kedua susunya yang menggantung bebas.”
“Buah dada Nafa memang indah Mas, ukurannya yang 34B itu pas dengan tubuhnya. Susunya putih bersih. Payudaranya kenyal sekali. Puting susunya yang berwarna merah kecoklatan itu lumayan lebar lo Mas, cuman ujungnya mungil. Dan kalo lagi ereksi, ujung puting susunya mencuat tegak agak keatas dan memeknya berwarna kemerahan dan ketika orgasme cairan birahinya sangat banyak keluar dari memeknya, rambut-rambut jembutnya sangat lebat sekali dan keriting Mas. Indah sekali. Bibirnya sexy sekali kan? Asal tau saja Mas, Nafa itu paling suka mengoral ****** saya. Bahkan ketika saya menyetir mobil, jika dia lagi nafsu, dia langsung memasukkan ****** saya kedalam mulutnya kemudian mengocok ****** saya dengan tangan dan mulutnya. Dia juga percaya kalo air peju meremajakan kulit wajahnya. Begitu kusemprot peju gue, dia langsung meminumnya sampai nggak tersisa sedikitpun.”.
“Saya putus dengan Nafa juga karena nafsu sex Nafa yang besar itu Mas. Bayangin aja Mas, dia sudah orgasme 12 kali tapi terus minta tambah. Sedangkan saya sudah keluar peju saya 5 kali, sampai habis. Mas, perhatikan pantat Nafa kan? Gue paling senang ngremas ama mukulin tuh pantat. Besar dan montok banget, kenyal lagi. Tapi Nafa nggak pernah mau anal sex, padahal gue pengin banget ngerasain jepitan liang anusnya. Meskipun pantat Nafa besar, lobang duburnya kecil sekali Mas. Pernah waktu dia tidur, saya coba masukin jari telunjuk saya ke liang anusnya yang dikelilingin rambut cukup lebat. Mungkin Nafa jarang sekali buang air besar, dan mungkin kotorannya kecil-kecil. Sulit sekali Mas, cuman masuk nggak ada setengah panjang jari telunjuk saya. Ketika dia mau bangun, saya buru-buru cabut lagi. Takutnya dia marah Mas.”
“Suatu malam di rumah saya, kami berhubungan badan. Aku bosan dia itu nggak puas-puas, padahal aku sudah capek sekali. Ketika saya minta berhenti, dia malah mengejek saya. Saya tersinggung sekali. Lalu saya mau memuaskan dia lagi asal kedua tangannya kuikat. Nafa setuju saja. Setelah kuposisikan menungging, kesempatan itu kupakai sebaik-baiknya, kubekap bongkahan pantatnya dengan tangan kiriku. Kemudian kumasukkan kedua jari tangan kananku ke dalam liang anusnya. Kukeluar-masukkan dengan cepat sampai agak membuka, lalu kuludahi liang anusnya yang sedikit menganga itu biar basah. Nafa marah sambil teriak-teriak. Kupaksa ia mengulum dulu ******ku sampai basah. Kemudian langsung kulesakkan ******ku yang besar dan panjang ini ke dalam pantatnya. Sangat sulit, tapi akhirnya penisku amblas seluruhnya di dalam pantat Nafa. Aku merasakan batang kejantananku dijepit oleh dubur Nafa sempit sekali sampai terasa sakit dan panas sekali didalam rongga dubur Nafa Urbach. Kemudian mulai kumaju-mundurkan ****** saya dalam pantat Nafa. Nikmat sekali.”
“Kusodomi pantat Nafa selama 20 menit, selama itu pula dia merasakan penderitaan kesakitan dan perih yang luar biasa pada pantatnya. Sambil kusodomi, kutampari kedua bongkahan pantatnya yang besar kenyal itu. Sampai pantatnya memerah dan lecet-lecet. Lalu dia pingsan karen tidak tahan sakitnya. Kemudian kusemprotkan seluruh pejuku ke dalam duburnya. Kudiamkan sejenak sambil memperhatikan batang ****** saya yang masih tertanam di dalam pantat Nafa. Ketika kucabut ****** saya, pejuku keluar dari lobang duburnya yang menganga lebar mengalir membasahi memeknya.”
“Karena dia tidak sadar-sadar, kusodomi lagi pantatnya untuk yang kedua kalinya. Meskipun Nafa belum sadar, tapi wajahnya memperlihatkan rasa sakit yang dideranya. Lobang duburnya yang tadinya mulai menyempit, kini melebar lagi. Kusemprot lagi pejuku ke liang pembuangan Nafa sampai akhirnya aku puas.
“Setelah sadar betul, kulepas tali yang mengikat lengannya. Kemudian dia bergegas berdiri dan buru-buru berpakaian. Nafa lalu mengatakan kalau dia tidak mau berhubungan dengan aku lagi. Lalu dia pergi dari rumahku, dengan berjalan agak sempoyongan. Nafa berjalan dengan kaki agak mengangkang, karena rasa sakit pada duburnya.”
Nafa kemudian menjelaskan tentang perawatan tubuhnya.
“Kalo payudara, aku rutin mengolesi permukaan payudaraku dengan cream perangsang. Cream itu merangsang otot-otot payudara aku agar selalu tegang, jadi payudaraku bisa tegak dan kencang. Selain itu aku juga pake alat setrum khusus payudara. Alat itu memiliki 2 kabel, yang dililitkan ke masing-masing kedua puting susuku. Kemudian alat tersebut mengalirkan listrik bertegangan rendah melalui kedua kabel tersebut, ke payudaraku. Urat –urat susuku kelihatan semua dan Otot-otot payudaraku berdenyut-denyut gitu Mas, agak sakit sich. Tapi lama-lama terbiasa. Itu aku lakukan agar payudaraku nggak kendur dan biar tetap tegak. Cream dan alat setrum itu aku beli dari dr. Boyke.”
Lalu apa rahasia pantat besar dan montok yang dimiliki oleh Nafa Urbach ?
“Mmm, Sebenarnya ini sangat pribadi ya Mas. Sebetulnya pantatku nggak sebesar ini. Aku pikir sudah banyak artis yang membesarkan payudara mereka. Seperti contohnya yang pasti Denada Tambunan, Sarah Azhari, Alda Rizma, Minati Atmanagara, dll. Jadi agar beda, saya putuskan untuk membesarkan pantat saya. Kemudian saya ikut terapi pembesaran pantat oleh dr. *****. Menu makan saya diatur, dan saya tidak boleh terlalu banyak duduk. Selama seminggu, sehari sekali dr. ***** menyuntikkan silikon cair ke dalam dua bongkah pantat saya. Lalu dr. Boyke juga menyuntikkan lemak untuk menutupi silikon itu, agar pantat saya lebih kenyal.”
Dengar-dengar Nafa Urbach juga sempat disetubuhi oleh dr. Boyke ?
“Begini lo Mas ceritanya. Saat terapi selesai, uangku cuman cukup membayar setengah biayanya. Aku nggak tahu kalau semahal itu. Lalu aku ngutang dulu ke bank. Tapi aku selalu menunda pembayarannya. Sampai 2 tahun kemudian, hutangku di bank besar sekali. Aku sempat bingung. Lalu dr. Boyke bilang kalau dia mau membayar hutangku, dengan syarat aku harus mau kalau dia ingin memakai pantatku untuk pelampiasan nafsunya. Karena kupikir kalo pantatku juga sudah pernah disodomi oleh Primus, maka kuterima tawaran dr. Boyke tersebut.”
“Di ruang kerjanya itulah dr. Boyke untuk pertama kalinya menyodomi pantatku yang montok ini, yang merupakan hasil karyanya. Agak sulit ketika pertama dimasukkan, tapi tidak sesulit waktu pertama kalinya aku disodomi oleh Primus. Lubang duburku yang sudah sempat menyempit dan rapat lagi setelah disodomi Primus kini membuka dan melebar lagi. Terasa sakit sekali, karena ternyata penis dr. Boyke lebih besar dari milik Primus. Aku menahan rasa sakitku. Tapi akhirnya aku menjerit juga karena tidak tahan, tapi dr. Boyke buru-buru menutup mulutku dengan tangannya. Untuk membayar hutangku di dr. Boyke, aku harus rela rutin ke tempat kerjanya seminggu sekali untuk menerima setoran sperma dr. Boyke ke dalam duburku.”
Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan mengocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus mengocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian kocokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu.
“Huffhh pinterr kamu Was… besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai.
Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng…
Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya.
Saat ini aku kuliah di kota Bandung, disitu aku menyewa sebuah rumah kecil dengan perabot lengkap dan untuk pengawasannya aku dititipkan kepada Oom Rony, sepupu ayahku yang juga pemilik rumah untuk memperhatikan segala kebutuhanku. Oom Rony adalah seorang pejabat perbankan di kota kembang ini dan dia kuanggap sebagai wali orang tuaku. Sekalipun aku sadar ketampanan dan segala kelebihanku digila-gilai banyak perempuan, namun aku masih belum mencari pacar tetap. Untuk menyalurkan hobby isengku saat sekarang ini aku lebih senang dengan cewek-cewek yang berstatus freelance atau cewek bayaran yang kunilai tidak akan membawa tuntutan apa-apa di belakang hari. Begitulah, pada tahun keempat masa kuliahku secara kebetulan aku mendapat seorang teman yang cocok dengan seleraku. Seorang gadis berstatus pembantu rumah tangga keluargaku tapi penampilannya cantik berkesan gadis kota. Jadinya konyol, di luaran aku terkenal sebagai pemuda mahalan kelas atas tapi tanpa ada yang tahu justru partner tetap untuk ber-”iseng”-ku sendiri adalah seorang gadis kampung yang status sosialnya jauh di bawahku.
Sriwasti nama asli si cantik anak bekas pembantu rumah tangga orangtuaku, tapi lebih akrab dipanggil dengan Wasti. Sewaktu mula-mula hadir di tempatku ini dia memang meringankan aku tapi juga membuat aku jadi panas dingin berada di dekatnya. Pasalnya dulu aku pernah punya skandal hampir menggagahi dia sehingga dengan kembalinya dia kali ini dalam status istri orang tapi tinggal kesepian ini tentunya menggali lagi gairah rangsanganku kepadanya. Usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia dulu dibiayai sekolahnya oleh orangtuaku dan ketika tamat SMA dia pernah beberapa bulan bekerja membantu-bantu di rumahku sambil berusaha masuk Akademi Perawat. Sayang dia gagal dan kemudian pulang kampung lagi untuk menerima lamaran seorang pemuda di tempat asalnya itu.
Waktu masih di rumah orangtuaku itulah aku yang tertarik kecantikannya, kalau pulang dari Bandung sering iseng menggoda dia, suatu kali sempat kelewatan nyaris merenggut kegadisannya. Sebab di suatu kesempatan Wasti yang memang kutahu menaruh hati padaku sudah pasrah kugeluti dalam keadaan bugil hanya saja karena aku masih tidak tega dan juga masih takut sehingga urung aku menodai dia. Kuingat waktu itu secara iseng-iseng aku sengaja ingin menguji kesediaannya yaitu ketika ada kesempatan dia kuajak ke dalam kamarku. Beralasan meminta dia memijati aku tapi sambil begitu kugerayangi dia di bagian-bagian sensitifnya. Ternyata dia diam saja tidak berusaha untuk menolakku, sehingga aku meningkat lebih terang-terangan lagi. Susunya memang menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal tapi aku masih mengincar lebih ke bawah lagi.
“Was gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu, Mas Dony pengen gosok-gosokin yang enak di punyamu?” bujukku dengan tangan sudah meraba-raba di selangkangannya.
Wasti tersipu-sipu dengan gugup ragu-ragu, meskipun begitu menurut saja dia untuk membuka celana dalamnya yang kumaksudkan itu.
“Ta… tapi.. nggak apa-apa ya Mass…?” kali ini terdengar nada tanya kuatirnya.
Aku yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkan dia. “Oo tenang aja, nggak Mas masukin inimu cuma sekedar ditempel-tempelin aja kok…” jawabku sambil juga menurunkan celana dalamku memamerkan batangku yang sudah setengah tegang terangsang.
Kuambil tangannya dan meletakkan di batang kemaluanku meminta dia memainkan batang itu dengan genggaman mengocok, ini diikuti Wasti mulanya dengan wajah kikuk malu tapi toh dia mulai terbiasa juga. Nampak tidak ada tanda-tanda risih karena baru kali ini dia melihat batang telanjang seorang laki-laki. Layap-layap keenakan oleh kocokannya sambil begitu sebelah tanganku juga ikut meremasi susu bergantian dengan bermain di liang kemaluannya. Lama-lama terasa menuntut, kuminta Wasti merubah posisi bertukar tempat, dia yang berbaring setengah duduk tersandar di kepala tempat tidur, dari situ aku pun masuk duduk berlutut di tengah selangkangannya.
Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan mengocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus mengocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian kocokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu.
“Huffhh pinterr kamu Was… besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai.
Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng, dia yang kuajak dan kugeluti sekedar menyalurkan tuntutanku. Memang, sampai dengan saat itu aku masih bertahan untuk tidak mengambil keperawanannya karena masih terpikir status kami yang berbeda. Aku majikan dan dia pembantu, padahal dalam segalanya Wasti betul-betul seorang gadis yang mulus kecantikannya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang kukenal belakangan, Wasti pun tidak kalah indahnya. Tapi itulah yang namanya pertimbangan status padahal akhirnya aku toh bertemu lagi dan membuat hubungan yang lebih jauh dengannya.
Di kampungnya Wasti dinikahi Ardi seorang pemuda tetangganya, dia sempat beberapa bulan hidup bersama tapi ketika Ardi yang lulusan Akademi Teknik, minta ijin selama setahun karena mendapat pekerjaan sebagai TKI di suatu negara Arab, Wasti praktis hidup sebagai janda sendirian. Begitu, untuk mengisi waktunya dia juga meminta ijin agar bisa mencari pekerjaan tambahan dan dia pun teringat kepadaku karena aku memang pernah menjanjikan hal itu kalau dia ingin mendapat tambahan pencaharian. Ardi setuju karena aku sudah bukan asing bagi mereka, maka sesaat sebelum Ardi berangkat ke Arab dia ikut mengantar Wasti meminta pekerjaan padaku.
Kedatangan Wasti untuk menawarkan tenaganya tentu saja tidak bisa kutolak tapi untuk tinggal bersama di rumah sewaanku jelas akan mengundang kecurigaan orang, dia pun kutawarkan tinggal sambil bekerja di sebuah tempat usahaku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Wasti langsung setuju tapi waktu suaminya sudah berangkat meninggalkan dia barulah dia berkomentar bingung soal pekerjaan itu.
“Tapi.., aku bener nggak disuruh kerja mijet Mas?” katanya agak keberatan dengan tugas yang belum dimengertinya itu.
“Ya enggak dong, kamu disana Mas kasih tugas utama sebagai pengawas tempat itu. Kalau soal mau belajar mijet sih boleh-boleh aja, malah bagus supaya Mas bisa kebagian rasanya juga,” kataku sambil tersenyum menggoda.
“Ngg.. gitu nanti ada yang ngajakin tidur aku, gimana Mas..?”
“Boleh, tapi minta ijin Mas dulu. Yang jelas Mas dulu yang pakai baru boleh dikasih yang lain,” kataku tambah menggoda lebih jauh.
Di sini Wasti langsung mesem malu-malu, tapi begitupun senang dengan tawaranku untuk mewakili aku mengawasi usaha tempat pijatku. Dia kuberi kamar di rumah yang kukontrak untuk usaha pijat itu tapi secara rutin seminggu dua kali dia datang membantu membersihkan rumahku dan mengambil baju-baju kotorku untuk dicucikannya.
Begitulah dengan adanya Wasti yang seolah-olah membawa keberuntungan bagiku, usahaku pun semakin bertambah ramai. Apalagi dia yang semula hanya bertindak sebagai tuan rumah setelah mulai belajar teknik memijat dan mulai mempraktekkan kepada tamunya, semakin banyak saja mereka yang datang mem-booking Wasti. Antri para tamu itu hadir dengan niat ingin mencicipi asyiknya pijatan sambil tentunya berusaha merayu agar bisa menikmati lebih dari sekedar pijatan si manis Wasti ini. Tetapi mereka belum sampai ke situ karena di bulan kedua kehadiran Wasti baru kepadakulah yang paling dekat dengannya saat ini, dia memberikan keistimewaannya.
Karena sudah pernah ada hubungan sebelumnya maka mudah saja bagiku untuk membuat kelanjutan intim dengannya, cuma saja setelah beberapa lama baru terpikir olehku untuk mencicipi dia. Waktu itu aku terserang muntaber dan sempat seminggu aku terbaring di rumah sakit dengan ditunggui bergantian oleh Wasti dan Indri kakak perempuanku yang sengaja datang dari Jakarta untuk mengurusi sampai dengan kesembuhanku. Keluar dari rumah sakit dan setelah melihat aku sudah mendekati pulih kesembuhanku, Indri pun kembali lagi ke Jakarta dengan meninggalkan pesan pada Wasti untuk tetap mengurusi sampai aku betul-betul sembuh. Lewat lagi dua hari tenagaku kembali pulih seperti semula tapi seiring dengan itu mulai timbul lagi tuntutan kejantananku dan kali ini aku berencana akan menyalurkannya pada Wasti sebagai sasaranku yang paling dekat denganku saat itu. Ini karena aku selama dirawat olehnya merasa lebih akrab perasaanku dan berhutang budi sekali padanya.
“Tau nggak Was? Apa yang pertama-tama mau Mas bikin kalau udah sembuh bener dari sakit ini?” tanyaku mengajak dia ngobrol menjelang kesembuhanku.
“Apa tuh kira-kira Mas?”
“Mas kepengen begini…” kataku sambil memberi tanda ibu jari dijepit telunjuk dan jari tengahku.
Wasti langsung ketawa geli mendengarnya. “Hik, hik, hik… Mas Dony yang dipikir kok itu dulu. Emang puasa berapa hari ini udah kepengen banget sih?”
“Justru itu, kepingin sih jangan bilang lagi tapi coba tebak siapa nanti yang bakal Mas ajak tidur?”
“Hmmm siapa ya? Mas sih banyak ceweknya mana Wasti tau siapa orangnya?”
“Orangnya ya kamu Was.”
“Nggg kok malah aku, kan masih banyak yang cakep lainnya Mas…” Wasti kontan tersipu-sipu malu seolah tidak percaya denganku.
“Yang Mas pilih emang kamu kok, sementara jangan dulu dikasih ke yang lainnya ya!” kataku sambil menarik dia mendekat kepadaku.
“Kasih siapa Mas, kan katanya harus ijin Mas dulu?”
“Makanya itu nanti Mas yang pakai dulu. Kasih Mas ya?” Kali ini kususupkan tanganku ke selangkangannya mengusap-usap bukit kemaluannya dan diterima Wasti dengan mengangguk sambil menggigit bibir malu-malu.
Dia sudah bersedia dan ketika tiba saatnya, aku sengaja mengajaknya keluar menginap di hotel karena aku ingin betul-betul bebas berdua dengan dia. Maklum di rumah sewaanku masih kukhawatirkan Indri ataupun keluargaku dari Jakarta akan muncul sewaktu-waktu sehingga tidak terlalu aman rasanya. Segera aku pun bersiap-siap dan membuka lemari untuk mengambil uang tapi ide nyentrikku mendadak timbul ketika terpandang sweaterku yang tergantung di situ. Kuminta dia memakai sweater itu tapi tanpa mengenakan apa-apa lagi di balik itu, ini memang diturutinya tapi sambil meringis geli ketika sudah naik ke mobil duduk di sebelahku.
“Mas ini ada-ada aja, masak aku cuma disuruh pakai kayak gini sih?”
“Kamu biar cuma pakai gini tetep keliatan manis kok Was,” kataku membesarkan hatinya.
“Tapi kan lucu Mas, di atasnya anget tapi di bawahnya bisa masuk angin…”
“Maksud Mas Donny begini supaya pemanasannya bikin cepet tambah kepengennya. Sambil nyupir gampang megang-megangin kamu…” jelasku dengan menjulurkan tangan ke selangkangannya sudah langsung merabai liang kemaluan telanjangnya.
Wasti tersipu-sipu tapi toh menurut juga ketika aku meminta dia menaikkan kedua kakinya ke atas jok sehingga liang kemaluannya lebih terkangkang lebar, lebih leluasa tanganku bermain disitu. Dia dari sejak dulu memang tidak pernah membantah apapun permintaanku. Mengusap-usap bukit yang cuma sedikit ditumbuhi bulu-bulu kemaluannya serta meremas-remas pipi menggembung dari bagian kewanitaannya yang menggiurkan ini, terasa kenyal daging mudanya itu. Dipermainkan begitu tangannya otomatis terjulur ke kemaluanku membalas memegang seperti dulu ketika dia masih sering bermain-main dengan milikku, tapi cuma sebentar karena segera dicabut lagi.
“Lho kenapa nggak diterusin?”
“Nggak ah, nanti keburu muncrat duluan. Mas kan udah puasa beberapa hari pasti sekarang udah kentel susunya, kan sayang kalau keburu tumpah di luar nanti Wasti nggak kebagian.”
“Lho kan dipanasin dulu botolnya nggak apa-apa. Siapa tau kelewat kentel malah nggak mau netes airnya nanti?”
“Masak nggak mau keluar Mas?”
“Oh iya lupa, kalau diperes-peres pakai lubang sempit ini memang pasti keluar sih. Tapi sambil dikocokin yang enak nanti ya?”
Rangsangan selama perjalanan sudah mulai memanaskan gairah birahi kami, ketika tiba di hotel kelanjutannya semakin membara lagi. Di hotel yang kupilih, Wasti sudah kusuruh masuk ke kamar duluan sementara aku masih menutup pintu mobil sebelum kususul dia disitu. Kubuka sekalian bajuku hingga telanjang bulat sementara dia masih berlutut di sofa yang menempel dekat jendela, pura-pura memandang ke luar mengintip lewat gordyn jendela. Segera aku merapat dari belakangnya langsung membuka sweater satu-satunya penutup tubuhnya, begitu sama telanjang bulat kupeluk dia merapatkan punggungnya ke dadaku dan mulai mengecupi lembut lehernya dengan diikuti kedua tanganku bermain masing-masing meremasi susu dan bukit kemaluannya.
“Maass… botolnya kerasa udah keras bener…” katanya mengomentari kemaluanku yang sudah mengencang menempel di atas pantatnya.
“Iya, udah ngerti dia sebentar lagi bakal ditumpahin isinya ke lobang ini,” jawabku singkat.
Kupondong dia dan membaringkan di atas tempat tidur langsung kudekap dan mencumbui dengan kecupan-kecupan seputar wajahnya dan usapan-usapan tangan di sekujur tubuhnya. Kenangan lama terungkit, gemas-gemas sayang rasanya dengan tubuhnya yang mulus lagi cantik ini. Ingin kulampiaskan emosi nafsuku tapi seperti takut dia kesakitan oleh tenagaku, jadinya setengah keras setengah tertahan serbuanku. Remasan tangan kuganti saja dengan permainan mulutku, tanpa menghentikan kecupanku yang mulai kujalari menurun ke leher menuju ke buah dadanya. Wasti selain mulus bersih juga tidak berbau keringatnya sehingga enak untuk kucium-ciumi dan kujilat-jilati. Tiba di bagian susunya, kedua bukit daging yang putih membulat bagus lagi kenyal ini segera kukecap dengan mengisap berganti-ganti masing-masing pentilnya. Mengenyoti bagian puncaknya, kungangakan lebar-lebar mulutku serasa ingin memasukkan banyak-banyak daging menonjol itu agar dapat kusedot sepuas-puasnya. Di dalam mulutku lidahku berputaran menjilati pentilnya, menggigit-gigit kecil membuat dia mengerang dalam geli-geli senang.
“Ssh ahngg… geli Masss…” suaranya merengek manja membuat aku semakin gemas bergairah.
Air mukanya mulai merah terangsang karena sambil begitu aku juga menambahi dengan mempermainkan liang kemaluannya. Menggosok-gosok klitorisnya dan mulai mencucukkan satu jariku mengoreki bagian mulut lubangnya. Ada satu yang istimewa dan menyenangkan itu dia mempunyai klitoris jenis besar yang jarang kujumpai pada kebanyakan kemaluan-kemaluan perempuan. Aku sudah lama mengenal bagian ini tapi masih juga seperti penasaran membawa aku merosot ke bawah untuk memperhatikannya lebih jelas.
“Ihhh… Mas ini mau ngeliat apa sih…?” Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.
“Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?”
“Hngg.. punyaku jelek kok mau-maunya diliat sih Mas…?”
“Kamu keliru, justru yang begini disenengin orang laki soalnya jarang ada…”
“Aaah Mas Dony menghibur aja. Apanya disenengin, jadi ketawaan malah…”
“Lho Mas sendiri udah keliling banyak cewek belum pernah dapet yang gini. Udah denger cerita dari orang-orang baru Mas penasaran lagi sama kamu Was…”
“Nggg abiiss Mas nggak dulu-dulu ngambilnya… Sekarang udah keburu diambil Kang Ardi duluan baru Mas minta, kan Wasti nggak tega ngasihnya kalau udah bekas-bekas Mas…” timpal Wasti dengan air muka membayangkan kecewa.
Melihat ini buru-buru aku menghibur. “Tapi nggak apa, biarpun gitu Mas Dony juga tetep seneng sama kamu kok. Sini Mas bikinin buat kamu.” Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu.
“Adduh Mass, Wasti nggak mau gitu..!” Kaget dia, ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu kupegangi masing-masing tanganku.
Sesaat dia membelalak seolah tidak percaya aku mau bermain begini dengannya tapi sebentar kemudian terhempas kepalanya mendongak dengan dada membusung kejang ketika tersengat geli kelentitnya kujilat dan kugigit-gigit kecil. Sebentar kubiarkan dia tenggelam dalam nafsu birahinya sampai terasa cukup baru kulepas permainan mulutku. Karena sudah lebih dulu kuhisap kemaluannya maka ketika aku meminta dia sekarang menghisap batang kemaluanku langsung diikutinya dengan senang hati.
“Nggak usah lama-lama Was, kasih ludah aja biar Mas masukin sekarang…” kataku untuk tidak berlarut-larut dulu dalam permainan pembukaan ini.
Wasti cepat mengikuti permintaanku dan sebentar kemudian dengan bantuan tangannya aku sudah menyusupkan batang kemaluanku masuk di liang kemaluannya. Begitu terendam kutahan dulu untuk menurunkan tubuhku menghimpit mendekapnya, mengawali dengan kecupan mesra di bibirnya untuk mengembalikan rangsang nafsunya yang sempat menurun oleh suasana tegang sewaktu menyambut batangku. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan yang dalam baginya sehingga terasa hangat sambutannya.
Nikmatnya jepitan liang kemaluan mulai terasa meresap, maklum, biasanya belum sampai 4 hari saja aku pasti sudah ngeluyur untuk mencari partner isengku. Dengan sendirinya senggama penyalur kerinduanku saat ini ingin kurasakan dengan senikmat-nikmatnya tanpa perlu terburu-buru. Kebetulan lagi partnerku ini termasuk barang baru yang muda lagi menggiurkan, jadi harus kuresapi asyiknya detik demi detik agar betul-betul mendapatkan kepuasan penyaluran yang maksimum. Setelah merasa cukup meresap asyiknya rendaman batang kemaluan dalam hangat liang kemaluannya, aku pun mulai memainkan batangku memompa pelan-pelan mencari nikmatnya gesekan batang.
“Ssshh Waaas.. enak sekali memekmu… sempitt rasanyaa…” Baru dua tiga gesekan saja aku sudah gemetar memuji rasa yang kuterima. Mukaku jadi tegang serius saking asyik diresap nikmat, bertatapan sayu dengan matanya yang sama mesra namun tergambar sinar senang dan bangga di situ.
Makin kupompa makin meluap nikmatnya apalagi Wasti mulai menambahi dengan memainkan liang kemaluannya mengocok lewat putaran pinggulnya.
“Adduu Waass… pinterr kammu ngocokknyaa… tapi Mas kepengenn cepet keluarr diginiinn… ssh mmm…” Sudah terbata-bata suara gemetarku bukan asal memuji tapi memang cepat saja aku dibuat tidak tahan oleh bantuan putaran kemaluannya.
Cairan mani terkumpul disitu tinggal menunggu waktu untuk disemburkan saja. Segera Wasti kudekap lagi dengan sebelah lengan di lehernya sedang sebelah lagi menahan pantatnya, aku pun mengganti gerakan tidak lagi menggesek tapi memutar batanganku dan menekan dalam-dalam sambil mengajak dia bercium melumat hangat. Wasti menyambut ajakanku dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggangku erat-erat. Seperti mengerti kalau batang kemaluanku sudah dikorek dalam-dalam berarti aku ingin mengajak dia berorgasme bersama-sama. Dia pun tidak menahan-nahan lagi.
“Ayyo Wass… Mass keluarinn yaaa…?”
“Iyya, iyaa Mas.. sama-sama…”
“Hhaaghh..! dduhhss… adduhh Wass… Mass kelluarr… sshhgh.. ahhgh… hghhh.. aaah … aaahshg duuuh… hoh… hnggg hmmm…” Baru saja ajakan berorgasmeku disahut Wasti aku pun sudah meledak mengaduh tiba di puncak kepuasanku.
Bukan main! Semprotan cairan maniku serasa dahsyat menyembur-nyembur, menumpahkan seluruh kerinduanku sepertinya panjang dan lama sekali diperas-peras oleh pijatan kemaluannya sampai dengan tetesan yang terakhir. Aku sendiri tidak memperhatikan lagi bagaimana partnerku ini ikut berorgasme karena bola mataku sudah terbalik saking nikmatnya aku berejakulasi. Luar biasa, jujur kukatakan bahwa inilah saat orgasme yang paling enak sejak aku mulai bisa bersetubuh dengan perempuan. Kerinduan birahi nafsuku yang tertunda cukup lama menurut ukuranku ini betul-betul mendapatkan penyalurannya yang memuaskan sekali. Begitu puasnya sehingga ketika tubuhku melemas Wasti masih tetap kupeluki dan kukecupi bertubi-tubi seputar wajahnya diikuti pujian tanda senangku.
“Was… kamu kok enak sekali sih… Mas Dony rasanya puas bener numpahin kepengennya sama kamu…”
“Enak nggak main sama Wasti, Mas?” masih dia bertanya manja namun dengan nada bangga di situ.
“Hmmsshh eenaak bener deh… Ini ibarat lagi laper-lapernya dikasih kue enak langsung pas bener kenyangnya.”
Wasti tertawa senang. “Wasti sendiri juga puas Mas diminumin susu kentelnya Mas Dony…” katanya sambil membalas mengecupi bibirku.
Berlanjut lebih jauh tentang Wasti, ada suatu pengalaman Wasti yang ingin kuceritakan di sini sejak dia bekerja di panti pijatku, yaitu tentang keintimannya dengan Oom Rony. Oom Rony memang doyan dipijat tapi merasakan dipijat seorang perempuan muda dia tidak pernah karena maklum dia takut dicurigai orang kalau pergi ke panti-panti pijat, selain itu Tante Yosi istrinya galak dan ketat mengawasinya. Maka ketika suatu kali dia kubawa ke sebuah panti pijat secara sembunyi-sembunyi Oom Rony langsung ketagihan. Itu sebabnya waktu kuusulkan untuk bekerja sama mengusahakan sebuah panti pijat milik temanku yang hampir bangkrut, Oom Rony segera setuju menyertakan modalnya atas namaku. Dengan begitu dia bisa menyalurkan kesenangannya dipijati gadis-gadis muda karena cuma beralasan pergi denganku saja baru Oom Rony bisa aman tidak dicurigai Tante Yosi. Kami berdua diketahui Tante Yosi sering pergi memancing sebagai salah satu hobby kami. Dari mulai sekedar dipijat ternyata mulai meningkat kepingin beriseng dan gadis pemijat yang diincarnya justru Wasti. Alasannya karena Wasti sudah dikenalnya sebagai orang dalam di rumahku sehingga dia yakin Wasti tidak akan menuntut apa-apa padanya. Aku sendiri semula tidak mengira kalau perkembangan pijat-memijat itu jadi semakin jauh. Hal ini baru kuketahui ketika suatu sore Mas Didik sopir sekaligus orang kepercayaan Oom Rony datang menjemput Wasti yang kebetulan sedang membersihkan rumahku, kudapati Wasti gelisah dan kurang enak air mukanya.
“Mas, bilang aja aku sekarang udah nggak bisa, udah pulang kampung, lalu Mas nawarin temen-temen lain aja…” katanya membujuki aku di kamar sementara Mas Didik menunggu di ruang tamu.
“Lho tadi Mas ditelepon Bapak memang bilang kamu ada disini kok, emang kamu kenapa…? Lagi capek ya mijetin Bapak sekarang? Kalau capek nanti Mas yang ngomongin,” kataku menawarkan. Bapak adalah menurut sebutan Wasti kepada Oom Rony.
“Nggak gitu Mas, tapi….” disini dia berat untuk meneruskan dan memandangiku dengan malu-malu takut.
Aku paham ada sesuatu yang disembunyikan dan kubujuk dia dengan lembut sampai akhirnya Wasti pun mengaku bahwa meskipun sudah sering memijat tapi baru belakangan ini Oom Rony terangsang untuk mengajak Wasti ber-”iseng”. Permintaan ini berat karena Wasti merasa kikuk dan sungkan sekali kepada Oom Rony dan untuk itu dia berusaha menolak dengan yang terakhir kali dia memberi alasan sedang haid. Jelas alasan yang begini cuma mengulur waktu saja sehingga untuk yang berikut ini Wasti merasa tidak bisa menolak lagi. Itu sebabnya dia jadi gelisah serba salah terhadapku. Mendengar sampai di sini aku cuma tersenyum membuat Wasti jadi lega. Memang, baik aku maupun dia sebenarnya sama mengerti bahwa Oom Rony sebagai laki-laki wajar kalau sesekali kepengen ber-”iseng” di luaran. Cuma saja bagi Wasti dia berat karena dia takut aku tersinggung dan marah kepadanya. Begitu, agak beberapa saat kami terdiam mencari jalan keluar tapi akhirnya kuanjurkan Wasti untuk memberi saja.
“Iddihh Mas Dony kok malah nyuruh ngasih, gimana sih?!” nadanya terdengar agak kurang enak dengan usulku.
“Gini Was, kamu kan ngerti kalau Bapak susah mau ‘ngiseng’ begini di luaran. Kebetulan bisa ketemu kamu yang udah dianggap deket bisa nyimpan rahasia, kan nggak apa-apa kalau diikutin sekali-sekali. Dijamin deh Mas Dony nggak marah soal ini.”
Mendengar dari aku sendiri yang berbicara seperti itu hanya membuat dia terdiam berpikir sebentar tapi kemudian menyetujui anjuranku. Setelah mendapat ijin khusus dariku Wasti pun bersedia untuk pergi memijat Oom Rony di hotel tempatnya menginap. Hotel itu adalah tempat rahasia Oom Rony dan tidak ada yang tahu kecuali Mas Didik yang membawa ke situ.
Kami bertemu lagi keesokkan harinya di panti pijat, rasa penasaran kubawa dia ke sebuah kamar untuk mendengarkan pengalamannya dengan Oom Rony sambil meminta dia memijati aku. Wasti yang ditanya soal semalam langsung menyembunyikan muka malunya di dadaku belum langsung menjawab.
“Lho kok masih berat nyeritainnya, kan Mas udah ngasih ijin? Gimana, kesannya asik atau nggak kan Mas kepengen tau?” tanyaku mendesak terus.
“Kesannya… aaaaa… maluu aku Maaass….!” Wasti menjerit malu makin membenamkan wajahnya ke dadaku. Kutunggu beberapa saat sampai malunya mereda barulah dia mau bercerita pengalamannya malam tadi.
Seperti yang sudah dibayangkan Wasti, baru saja memijat sebentar bagian punggung Oom Rony sudah berbalik minta dipijat bagian depan. Disitu sambil mengambil tangan Wasti untuk memijati seputar selangkangannya dia mulai memancing-mancing jawaban Wasti tentang kesediaannya untuk memenuhi ajakan ber-”iseng”-nya waktu itu. Wasti meskipun merasa sudah tidak ada yang diberati tapi masih kikuk untuk mengiyakan langsung. Dia hanya menggigit bibir malu-malu meskipun begitu tangannya bekerja juga menyusup di balik handuk yang dikenakan Oom Rony dan segera memijat daerah selangkangan yang dimaksud untuk merangsang kejantanannya. Jelas cepat saja batang itu naik menegang.
“Ihhhng… cepet bener bangunnya Bapak punya…” katanya mengomentari batang kemaluan kencang Oom Rony di genggamannya.
“Makanya itu, biar nggak tambah penasaran sebaiknya diselesaikan sama kamu Was?” jawab Oom Rony sambil merayapkan tangannya dari belakang pantat Wasti menyusup mengusapi tengah selangkangannya.
“Mmm… tapi mesti dilicinin dulu Pak…” lagi-lagi Wasti tidak menjawab langsung, hanya mengambil cream pemijit dan melumuri seputar batang itu agar menjadi licin.
Sekarang Oom Rony mengerti bahwa Wasti sudah bersedia menyambut ajakan ber-”iseng”-nya, dia beraksi lebih dulu membuka belitan handuk yang dipakainya.
“Kalau gitu ke sini aja supaya nggak habis waktunya. Ayo buka dulu bajumu terus naik sini Nduk!” kata Oom Rony terburu-buru saking senangnya.
Wasti berhenti dan mengikuti permintaan Oom Rony untuk segera membuka bajunya. Tapi meskipun sudah terbiasa bertelanjang bulat di depan lelaki, tidak urung dengan majikan besarnya ini Wasti merasa kikuk sekali. Lebih-lebih waktu ditarik berbaring bersebelahan disambut masuk dalam pelukan Oom Rony yang langsung menyerbu dengan remasan gemas dan ciuman bernafsu di seputar lehernya, Wasti jadi risih karena merasa tidak pantas dengan besarnya perbedaan status di antara kedua mereka.
Sekalipun sudah dicoba memejamkan mata dan menghayalkan dia sedang digeluti salah seorang langganan “Oom Senang”-nya tapi tetap saja terbawa sebagai majikan besar ini sulit hilang, sehingga Wasti seperti kaku tidak berani bergaya manja-manja genit. Padahal Oom Rony sudah tidak perduli soal status dan jabatannya, juga tidak perduli dengan status lawan mainnya. Yang dia tahu saat itu ialah si gadis pembantu yang cantik ini begitu menggiurkan dalam penampilan polosnya sehingga Oom Rony yang sedang mendapat kesempatan menggelutinya pun tambah lebih bersemangat lagi.
Dari mulai kedua susunya, sudah habis-habisan masing-masing daging kenyal yang bulat montok itu diremasi dan disosor rakus mulut Oom Rony. Disedot-sedot bagian puncaknya sambil dikulum pentilnya digigit-gigiti kecil membuat Wasti menggelinjang kegelian, begitu juga seputar tubuh si cantik sudah rata dijelajahi rabaan tangan Oom Rony yang sibuk penasaran. Mendarat di selangkangannya bukit daging setangkup tangan itu pun diremasi gemas, jarinya mengukiri celah hangat mengiliki kelentit dengan gemetar bernafsu. Semakin Wasti meliuk erotis semakin merangsang nafsu Oom Rony sampai akhirnya dia tidak tahan berlama-lama lagi. Dia pun berhenti dan segera mengambil ancang-ancang untuk mulai menyetubuhi Wasti. Menangkap bahwa Wasti mungkin masih kikuk dengannya, Oom Rony meminta Wasti berbalik agar dia bisa memasuki dari arah belakang. Ini diikuti Wasti tapi belom Oom Rony sudah merapat menepatkan sendiri ujung batang kemaluannya dan langsung menekan masuk.
“Tapi… lho, lhoo, lhooo..?!” Wasti sampai menjengkit dengan meringis bengong karena dia merasakan suatu kesalahan tusuk pada lubangnya.
Bukan di lubang kemaluan tapi justru lubang anusnya yang disodok batang itu. Dan konyolnya baru saja dia akan memperbaiki sudah keburu keluar komentar Oom Rony. “Ssshhmmm.. enakk Waass.. sempit sekali punyakmuu hhhshh…” baru terjepit sudah langsung dipuji rasanya.
Wasti jadi urung membetulkan karena dia kuatir Oom Rony tersadar dan malu hati, malah hilang selera nafsunya dan batal meneruskan permainan. Biar saja, mumpung suasana kamar remang-remang gelap mudah-mudahan sampai dengan selesai Oom Rony tidak menyadari kekeliruannya. Syukur, Oom Rony memang kelihatan bernafsu sekali terasa dari sodokannya yang gencar dengan tubuh gemetaran persis seperti ****** sedang dalam siklus birahinya. Maklum, dia betul-betul lapar sekali menyetubuhi partner muda seperti ini. Dan melihat ini Wasti menambahi dengan bantuan goyangan pinggulnya mengocok batang itu, maka tidak berlama-lama lagi sebentar kemudian terdengar tenggorokan Oom Rony menggeros tersendat-sendat ketika dia berejakulasi memuntahkan cairan maninya. Itulah apa yang dialami Wasti ketika melayani Oom Rony semalam.
“Tapi urusannya sekarang gimana nih, semalem yang ini dipakai juga nggak? Kalau nggak biar Mas Dony yang ngisi sekarang?” tanyaku menggoda sambil menyusupkan tanganku meremas langsung kemaluan telanjangnya. Wasti memang selalu bertelanjang bulat jika memijati aku.
“Main yang keduanya memang dipakai juga, tapi biarpun gitu asal yang mau ngasih lagi Mas Dony sendiri tetep aja Wasti penasaran Mas..” jawabnya dengan mulai bermain di kemaluanku.
“Kalau gitu pertamanya pakai yang depan dulu ya? Abis itu baru masukin yang di belakang, soalnya Mas Dony juga jadi nafsu deh denger ceritamu barusan.”
Wasti hanya mengangguk tersipu-sipu menyetujui permintaanku. Memang, permainan anus ini dipelajarinya dariku, jadi meskipun awalnya dulu dia kerepotan dengan batang kemaluanku tapi sekarang sudah terbiasa dengan ukuranku. Tanpa menunggu lagi dia pun segera mengencangkan batang kemaluanku. Dengan tekniknya yang terlatih dia pun mengerjai batangku. Mula-mula dikocoki pelan dengan genggaman tangannya sampai setengah menegang, setelah itu diteruskan dengan kerja mulutnya yang mengulum dan mengisap, baru setelah tegang kaku dia pun memasang dirinya untuk siap kusetubuhi. Kalau sudah sampai disini permainan asyik pun berlangsung sebagaimana yang sering kami lakukan berdua. Yaitu seperti keinginanku, mula-mula kuresapi pijatan lubang kemaluannya di batang kemaluanku tapi ketika menjelang tiba ejakulasiku, barulah kupindahkan ke lubang anus untuk menyelesaikan permainan dengan menyembur-nyemburkan cairan maniku disitu.
Rupanya Oom Rony setelah mendapatkan Wasti bukan sekedar ketagihan lagi tapi lebih dari itu dia ingin berlanjut memelihara Wasti sebagai “gendak” peliharaannya. Kedengarannya enak buat Wasti tapi begitupun dia selalu minta pendapatku dulu. Setelah berunding denganku akhirnya kuberi jalan bahwa Wasti bersedia tapi hanya selagi suaminya masih belum pulang saja. Syarat ini disetujui Oom Rony dan begitulah Wasti langsung menghilang dari Panti Pijat tanpa ada yang tahu karena sebenarnya dia sedang bersembunyi di rumah yang disewakan Oom Rony untuknya. Akan tetapi sekalipun suaminya sudah ada, hubungan Oom Rony dengan Wasti tetap berlanjut yaitu Oom Rony secara rutin memanggil Wasti dengan alasan minta dipijati. Pasalnya Wasti semenjak dipelihara sebagai langganan kesayangan Oom Rony kehidupannya bisa terjamin dimana Wasti diberi modal untuk membuka sebuah usaha percetakan. Ini dianggap hutang budi bagi Ardi karena setelah pulang dari Arab Ardi tidak medapat pekerjaan lagi sehingga keluarga ini tergantung nafkahnya dari usaha percetakan itu.
Berlanjut pada hubungan itu mulanya Wasti dipanggil ke hotel seperti biasa tapi karena yang begini lama-lama justru mengundang kecurigaan Ardi maka Wasti mengusulkan sebaiknya Oom Rony datang ke rumahnya saja. Dengan berlaku seolah betul-betul akan dipijati tapi diam-diam berhubungan badan, cara begitu malah aman tidak akan dicurigai siapapun. Oom Rony menimbang-nimbang ternyata usul Wasti benar dan begitulah hubungan unik ini berlangsung justru seperti dilindungi oleh Ardi. Awalnya waktu siang itu sementara kedua suami istri sibuk melayani percetakan di bangunan sebelah, Wasti memberitahu Ardi bahwa hari ini adalah jadwal pertama kedatangan Oom Rony, dia pun meminta tolong suaminya meneruskan pekerjaannya sendirian karena dia sebentar lagi akan menerima langganan tetapnya itu. Ardi pun mengangguk dan mengambil alih tugas itu.
“Udah tinggal aja Was biar Mas yang ngurus. Kamu cepet aja ganti baju nanti Oom Rony keburu dateng,” begitu jawab Ardi.
Wasti pun bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri, dia bisa lega untuk menerima Oom Rony yang datang sesuai jam yang dijanjikan. Singkatnya begitu Oom Rony muncul sudah langsung diajak ke kamar tidurnya, disini mau tak mau perasaannya agak kurang tenang juga karena baru pertama inilah dia berterang-terangan melakukan kegiatan di rumahnya sendiri, tapi perasaan ini mulai terlupa ketika sebentar kemudian Oom Rony mulai sibuk merangsang mengecapi sekujur tubuhnya. Terus terang, kalau bukan karena uangnya sebenarnya bagi Wasti dari penampilannya laki-laki gemuk pendek lagi botak ini sama sekali tidak menarik ataupun menerbitkan seleranya. Tapi untungnya selain uangnya cukup royal, juga cara bermain seksnya bisa juga memuaskan Wasti sehingga Wasti cukup senang melayaninya. Cara merangsang mulutnya yang rakus diikuti menjilat-jilat rata sekujur tubuhnya mula-mula memang kurang “sreg” bagi Wasti kalau masih memulai pembukaan dari bagian atas. Agak jijik rasanya dengan ludah Oom Rony yang melengket di seputar wajahnya. Tapi kalau sudah menurun ke bawah baru terasa ada keasyikan yang membawa dia naik dalam birahinya. Cuma perlu sering diingatkan karena laki-laki ini suka kelewat gemas.
“Aahss Paakk.. jangan digigit keras-keras.. sakitt…” merintih Wasti tapi dengan muka geli senang, menahan kepala Oom Rony kalau terasa puting susunya tergigit agak sakit.
Oom Rony sadar lagi, buru-buru menekan emosinya untuk mencoba lebih halus, tapi biasanya tidak lama karena sebentar kemudian sudah terlupa lagi dia untuk kembali menggigiti gemas sekujur tubuh Wasti. Wasti sering kewalahan, biarpun sudah merengek-rengek dia dengan menggeliat-geliat meronta-ronta menolaki kepala botak Oom Rony dengan maksud ingin menghindari tapi Oom Rony malah tambah bernafsu kepada perempuan yang gayanya makin genit merangsang ini. Tambah bertubi-tubi dia menyerbu Wasti. Mau tak mau Wasti mengalah, sudah hafal dia kalau belum puas membuat mengenyoti gemas di bagian susunya, belum berpindah Oom Rony dari situ. Tapi kalau sudah bergeser ke bawah, caranya pun serupa juga. Tidak hanya di atas, yang di bawah inipun dia sama rakusnya. Malah lebih lagi. Sebab tidak perduli kemaluan Wasti entah berapa orang yang sudah memakai, dia tetap bernafsu sekali menghisap dan menjilat-jilat sambil menyosorkan mukanya tersembunyi di selangkangan Wasti.
Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony.
“He.. hehngg.. aahsss diapain gittu… gellii iihhh..” merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap, diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.
Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi “asyik” pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak “sreg” tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.
Seirama dengan bunyi “mencicit” putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lancar saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.
“Hshh.. ayyo Was… Bapakk keluarr…” di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.
“Ayyo Pakk.. sama-sama… hhoghh.. dduhh…” Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.
Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.
Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.
“Duh Mas Dony… Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku?” katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.
“Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?”
“Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok…”
Sebentar pembicaraan terputus sampai disini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Disitu rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmmm… kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.
“Ayo Mass.. buka juga ininya…” berdesis suaranya sambil tangannya ingin melorot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru.
Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama2 telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat. Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.
Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung.
“Nggak di tempat tidur aja Mas…?” tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih.
“Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?” begitu jawabku menentukan keputusanku.
Meskipun agak kurang “sreg” tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.
Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah, dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyusup masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.
“Ahngg Mass Doonyy..” keluar erang senangnya sambil menyebut namaku.
Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasuki batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat senggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi senggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.
Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
“Wiihhss… Mas Donny kangen aku kontolmu Mass… ssshh mantepp rasanya…” komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar air mata bahagianya.
Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Air muka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asyik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.
“Enak nggak Was rasanya punya Mas…?” bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.
“Hsh iya ennak sekalli Mass… ****** Mas Donny palingg ennak dari semuanya… hhssh wihh kerras sekalli.. ennaakk.. adduuuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh… Mass Donyy ennaak sekalii Maaas…”
Wasti kuhapal memang tipe spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik senggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat.
“Hhrrh.. hghh.. nghhorrh.. ssshghh.. hoorrhgh.. hhhhng.. hngnhfffgh.. ngmmgh…” suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam senggama ini.
Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.
“Hhahhmmhh.. Mas Ddony… assyiknyaaa… keturutan kangenku sama Mas…” kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.
“Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was,” kataku jujur membalas perasaan hatinya.
“Bener?” tanyanya menguji dengan nada manja. Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.
Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.
“Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi…?”
“Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?” jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.
Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.
“Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur… nanti aja di kamar Mas… kalau di sini nanti ada yang liat gimana?” Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.
“Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang datang…” kataku meminta sambil menenangkan dirinya.
Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca dimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.
“Ahhs Maaass..!” Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.
Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik. “Wih, wih Masss… kok cepet banget sih keras bangunnya…?”
“Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?”
“Iya tapi aku belum basah Mas…”
“Nanti Mas basahin sebentar…”
“Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran…”
Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.
Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyusupkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.
“Keras sekali rasanya Mas…?” komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.
Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.
“Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya…” jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.
Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat senggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.
Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.
“Aahs yyohh Wass… Mass sudah mau samppe…”
“Iya Mass… sama-samaa… sshhhah-hhgh.. dduhh… oohgsshh… hrrh.. hheehh.. Wass.. ayyoo.. dduuh Maass… aaddusssh.. hrhh…”
Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.
